Jumat, 05 Desember 2014

pergeseran peta manual akibat peta digital

Assalamu alaikum guys...
keberadaan peta digital di zaman moderen ini sadar atau tidak telah menggeser penggunaan peta manual, bahkan tidak jarang kita temui orang-orang yang sama sekali tidak bisa untuk membaca peta manual.
next,,,, ria akan jelaskan menenai


PERGESERAN PENGGUNAAN PETA MANUAL AKIBAT MUNCULNYA PETA DIGITAL

A.    Pengertian Peta Manual dan Peta Digital
Pemetaan digital adalah penggambaran permukaan bumi menggunakan komputer dengan menggunakan data koordinat. Inti dari pemetaan digital adalah proses pengolahan objek-objek peta yang menggunakan format digital sehingga membutuhkan perangkat keras komputer dan perangkat lunak yang berkaitan.
B.     Sejarah peta
Peta pertama ditemukan ketika dilakukan penggalian reruntuhan Kota Gasur di Babilonia. Peta ini merupakan sebuah lempeng kecil yang terbuat dari tanah liat dan diperkirakan dibuat sekitar 2500 tahun sebelum Masehi. Peta ini menggambarkan suatu lembah, gunung, dan sungai yang bercabang tiga hingga membentuk delta dan bermuara di laut atau di suatu danau. Peta generasi kedua ditemukan di Mesir. Peta ini digambarkan di atas lembaran kertas yang terbuat dari kulit (parchment). Pada peta - peta ini diperlihatkan persil - persil tanah pertanian yang terdapat di sekitar lembah Sungai Nil dan lokasi - lokasi tambang emas di Mesir pada masa pemerintahan Rames II (1292 - 1225 sebelum Masehi).
Beberapa abad kemudian, orang - orang Yunani yang mendapatkan keterampilan kartografi hingga akhirnya dapat mengkomplikasikan peta - peta realistik yang pertama. Mereka mulai dengan menggunakan sistem koordinat segi - empat untuk pembuatan peta - petanya sekitar 300 tahun sebalum Masehi. Kira - kira 100 tahun kemudian, seorang pakar metematika, astronomi dan geografi Yunani, Eratosthenes, meletakan dasar - dasar ilmu geo desi dan kartografi. Pakar ini telah melakukan serangkaian pengamatan hingga akhirnya didapat bukti - bukti yang menyatakan bahwa bentuk bumi itu tidak datar tetapi bulat. Selain itu Eratosthenes juga memperoleh nilai keliling bumi walaupun dikemudian hari diketahui nilainya 16% lebih besar dari hasil hitungan pada saat ini. Selain itu, makin banyak peta - peta yang dibuat dengan dasar ilmu - ilmu ini, dan diantaranya adalah peta - peta dunia pertama yang di buat oleh Claudius Ptolemaeus di Alexandria. Pengaruh kartografi dari Yunani Kuno ini demikian kuat hingga mempengaruhi sebagian dasar - dasar sistem kartografi yang ada pada saat itu, dan baru mendapatkan kemajuan yang signifikan pada abad ke-16. Merekalah yang memperkenalkan konsep - konsep bumi bulat dengan kutub - kutubnya, garis khatulistiwa dengan daerah - daerah tropisnya, sistem koordinat geografi Lintang dan Bujur, sistem proyeksi peta, dan hitungan dimensi - dimensi bumi.
C.    Peta Digital
Pemetaan digital atau sering disebut sebagai digital mapping merupakan suatu cara baru dalam pembuatan peta, baik untuk keperluan pencetakan maupun dalam format peta digital. Sedangkan definisi lain dari pemetaan digital adalah penggambaran permukaan bumi menggunakan komputer dengan menggunakan data koordinat. Inti dari pemetaan digital adalah proses pengolahan objek-objek peta yang menggunakan format digital sehingga membutuhkan perangkat keras komputer dan perangkat lunak yang berkaitan. Soft ware yang biasa digunakan dalam pembuatan peta digital adalah Land Desktop, Auto Cad Map, Arc View, Map Info Professional, dan lain-lain.
Perkembangan teknologi komputer dan informasi yang semakin pesat baik secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada berkembangnya dunia pemetaan.
Perkembangan teknologi komputer yang dimaksud adalah kapasitas memori yang semakin besar. Proses data yang semakin cepat dan fungsi dari komputer itu sendiri yang menjadi lebih majemuk sehingga memiliki fungsi yang sangat beragam, selain itu komputer juga menjadi lebih mudah untuk dioperasikan melalui beberapa paket program.
Saat ini pembuatan peta secara konvensional secara terestris dapat dipermudah dengan bantuan komputer melalui pendataan di lapangan yang langsung dapat didownload ke komputer untuk pelaksanaan perhitungan polygon, perataan perhitungan (koreksi) dan lain-lain. Bahkan dewasa ini kita bisa melakukan pemisahan warna secara digital sebagai proses dalam pencetakan peta.
Seperti halnya peta hardcopy atau peta analog, peta digital dapat kita pakai untuk membantu kita mendapatkan informasi suatu daerah. Perbedaan antara keduanya hanya pada pada bentuknya saja, dimana peta analog berupa lembaran kertas, sedangkan peta digital berupa data yang tersimpan dalam media perekam seperti disket, CD, flashdisk atau harddisk. Kelebihan yang dimiliki oleh peta digital dibanding dengan peta analog salah satunya adalah kemudahan untuk editing dengan mudah dan cepat.
Dengan adanya peta digital kita sebagai orang-orang yang berhubungan dengan pemetaan atau orang-orang yang dalam kesehariannya selalu bergelut dengan peta banyak diuntungkan. Namun selain keuntungan-keuntungan yang kita dapatkan, ada pula kekurangan-kekurangan yang kita dapatkan dengan menggunakan peta digital. Keuntungan-keuntungan yang kita dapatkan antara lain:
  1. Pembuatan peta existing semakin cepat dan mudah.
  2. Pembuatan peta tematik lebih mudah dan cepat.
  3. Produksi (penggandaan) peta semakin cepat.
  4. Penyajian secara grafis lebih bagus.
  5. Updating peta lebih mudah dan cepat.
  6. Melalui pengggabung dengan data stasistik maka analisis data dapat dilakukan dengan mudah.
  7. Media penyimpanan semakin kecil sehingga tidak membutuhkan ruangan yang besar.
  8. Kualitas data dapat dipertahankan karena tidak terpengaruh oleh suhu, tekanan, dan lain-lain.
  9. Dapat dengan mudah memproduksi peta dengan berbagai macam skala dengan memperhatikan proses seleksi dan generalisasi.
  10. Dapat dengan mudah membuat peta.
Kendala-kendala yang dihadapi dalam penggunaan peta digital adalah:
  1. Membutuhkan investasi biaya yang mahal untuk peralatan (hardware) pengadaan data (digitizer, scanner, computer, total station, GPS, citra satelit dll).
  2. Memerlukan sumber daya manusia yang terampil yang menguasai berbagai macam disiplin ilmu (computer, kartografi, remote sensing, pemetaan digital, sistem koordinat, sistem proyeksi dll).
  3. Membutuhkan biaya investasi yang besar untuk pengadaan software yang berlisensi (MS windows, MS office, ER Mapper, Autocad Map, Arc View, Map Info, dll).
Dengan kemudahan pengolahan dan pemindahan dari media komputer ke media penyimpanan data membawa dampak negatif seperti:
  1. Dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak berwenang dan dapat diperbanyak, diberikan kepada pihak lain serta dapat diperjualbelikan secara bebas.
  2. Terjadi pembocoran data kekayaan alam, dislokasi militer, dan segala sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia negara.
  3. Data tentang kondisi medan/alam dapat ditransfer secara langsung dan secara cepat dengan menggunakan jaringan komputer yang saling dihubungkan, sehingga pihak musuh secara sewaktu-waktu di monitor dari tempat yang lain.
Proses Pemetaan Digital
Secara umum proses pemetaan digital dibagi ke dalam tiga tahap pekerjaan sebagai berikut:
1.        Data input
Data input yang dimaksud dapat berupa data survei lapangan baik dengan menggunakan theodolite, total station, ataupun GPS yang telah diproses menjadi data koordinat, peta analog yang sudah ada, hasil interpretasi foto udara atau citra satelit. Data analog ini perlu dilakukan digitasi dengan melalui vektorisasi dengan perangkat keras meja digitizer atau rasterisasi dengan alat scanner. Kemudian dilakukan perubahan format yang diinginkan dari vektor ke raster atau sebaliknya.
2. Data processing
Untuk proses editing objek-objek peta yang berupa simbol, titik, garis, ataupun poligon dilakukan dalam format data vektor. Hal ini mengingat kemampuan format vektor yang tidak terpengaruh besar kecilnya nilai piksel. Ketika dilakukan zooming (in atau out) informasi yang tersimpan dalam format vektor tidak berubah. Hal ini sangat berbeda bila menggunakan format data raster yang terpengaruh oleh zooming kenampakan pada layar monitor.
3. Data Output
Dengan berbagai manipulasi yang ada pada beragam perangkat lunak yang diinginkan, setelah melalui proses editing dan perancangan layout akan dihasilkan peta baru dalam format digital. Peta baru dalam format digital ini memiliki banyak keuntungan apabila akan digandakan, dikirim ke tempat lain, atau jika akan dilakukan penambahan atau pengurangan informasi baru ke dalamnya. Untuk penyimpanannya pun jauh lebih hemat, praktis, dan relatif tahan lama.
Peralatan, bahan dan prosedur pemetaan digital
Pemetaan tanah digital (disingkat PTD) atau digital soil mapping
Era informasi ditandai dengan pemanfaatan teknologi komputer, teknologi komunikasi dan teknologi proses secara terintegrasi, untuk mewujudkan masyarakat yang semakin nyaman dan sejahtera. PTD dapat didefenisikan sebagai penciptaan dan pengisian sistem informasi tanah dengan menggunakan metode-metode observasi lapangan dan laboratorium yang digabungkan dengan pengolahan data secara spatial ataupun non-spatial. Metode PTD menggunakan variabel-variable pembentuk tanah yang dapat diperoleh secara digital (misalnya remote sensing, digital elevation model, peta-peta tanah)untuk mengoptimasi survai tanah di lapangan. Tujuan PTD adalah menggunakan variabel-variabel pembentuk tanah untuk menprediksi sifat dan ciri tanah keseluruhan area survai dalam Sistem Informasi Geografis. Dengan kata lain PTD adalah proses kartografi tanah secara digital.
Namun PTD bukan berarti mentransformasikan peta-peta tanah konvensionil menjadi digital. Proses PTD menggunakan informasi-informasi dari survei tanah lapangan digabungkan dengan informasi tanah secara digital, seperti citra (image) remote sensing dan digital elevation model. Dibandingkan dengan peta tanah konvensional, dimana batas-batas tanah digambar secara manual berdasarkan pengalaman surveyor yang subyektif. Namun dalam PTD teknik-teknik automatis dalam Sistem Informasi Geografis digunakan untuk menproses informasiinformasi tanah dengan lingkungannya.
a.       Data spasial
Data spasial adalah data yang memiliki referensi ruang kebumian (georeference) di mana berbagai data atribut terletak dalam berbagai unit spasial. Sekarang ini data spasial menjadi media penting untuk perencanaan pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan pada cakupan wilayah nasional, regional maupun lokal.
Pemanfaatan data spasial semakin meningkat setelah adanya teknologii pemetaan digital dan pemanfaatannya pada Sistem Informasi Geografis (SIG). Informasi spasial adalah salah satu informasi yang harus ada dan menjadi tulang punggung keberhasilan perencanaan pembangunan masyarakat di atas.
Penuangan informasi spasial dalam bentuk peta digital sangat dihajatkan dikarenakan hal-hal berikut:
1)        Fleksibilitas penggunaannya untuk berbagai kepentingan sektoral pembangunan.
2)        Semakin meluasnya penggunaan komputer personal dengan berbagai fasilitas untuk penampilan data grafis.
3)        Semakin meluasnya pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) yang berbasis peta digital. SIG semakin diharapkan kontribusinya dalam membantu pengambilan keputusan pada kebijakan yang terkait dengan penataan dan pemanfaatan ruang.
b.      Spesifikasi peta digital
Peta digital yang dapat diandalkan adalah yang memiliki data terintegrasi secara nasional bahkan internasional, cepat proses produksinya, akurat datanya serta terjamin proses pemutakhirannya.
Antisipasi
Pemetaan digital mencoba menerapkan teknologi mutakhir di bidang pemetaan yang seoptimal mungkin memanfaatkan teknologi digital. Dibandingkan dengan proses pemetaan sebelumnya, pada pemetaan digital terjadi reduksi tahapan proses produksi pemetaan dan reduksi waktu produksi yang berarti. Pemetaan digital menawarkan teknologi pemetaan yang menjamin kecepatan dan ketepatan produksi peta.

c.       Yang unik pada pemetaan digital
Pemotretan foto udara dikombinasikan dengan teknologi penentuan posisi GPS Kinematis. Ini mereduksi kebutuhan titik kontrol lapangan yang memakan waktu lama dalam pengadaan dan sangat merepotkan dalam pemeliharaannya. Kebutuhan titik kontrol lapangan dipenuhi dengan pengukuran Differential GPS. Ini menjamin integrasi data dengan kerangka spasial nasional bahkan internasional. Kompilasi data fotogrametris stereo plotting dilakukan dengan pengkodean unsur yang konsisten. Artinya sejak proses ini basis data inisial telah tersusun. Kontur dihitung dengan pengukuran data ketinggian pada grid beraturan ditambah pada unsur-unsur penting, seperti jalan dan sungai. Penambahan data hasil proses cek lapangan, pemisahan warna cetak sampai pembuatan desain kartografis dilakukan hampir seluruhnya secara digital.
d.      Produk
1)        Titik Kontrol GPS, sangat bermanfaat untuk pengikatan pemetaan sektoral kepada kerangka spasial nasional.
2)        Cek plot geografis, pada prinsipnya sudah dapat dimanfaatkan untuk aplikasi SIG sebagai masukan data dasar, atau dapat dimanfaatkan untuk pembuatan peta-peta khusus, misalnya peta jaringan jalan.
3)        Peta digital, didistribusikan dalam media CD-ROM sangat membantu dalam mempercepat pengadaan data spasial dasar, siap digunakan oleh berbagai kepentingan pemetaan sektoral, sebagai pondasi pembuatan peta-peta tematik. Akan disediakan juga produk peta dalam bentuk cetak
.
e. Daftar produk pemetaan digital
1)        Foto Udara skala 1:50.000 dan 1:30.000 (untuk kota-kota: Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Kupang), berikut data GPS Kinematik.
2)        Titik Kontrol GPS sebanyak kurang lebih 170 titik yang tersebar di seluruh wilayah pemetaan.
3.9.950 Model Foto Udara untuk penghitungan triangulasi udara dan pemetaan.
3)        1.662 lembar peta skala 1:25.000 dalam bentuk cetakan dengan 5 warna.
5. Peta dalam format digital (pada media CD-ROM) yang antara lain memuat lapisan-lapisan (layer): jalan/komunikasi/transportasi, pemukiman, vegetasi, perairan dan kontur.

 

Digital Elevation Model (DEM) dengan kerapatan informasi ketinggian pada 100 x 10 meter.
Upaya pengamanan data pemetaan digital
Perkembangan teknologi komputer yang semakin cepat, canggih dan berkemampuan tinggi meliputi: kapasitas memori yang semakin besar, proses data yang semakin cepat dan fungsi yang sangat majemuk (multi fungsi) serta semakin mudahnya komputer dioperasikan melalui beberapa paket program, berdampak pula pada proses pembuatan peta. Pembuatan peta secara konvensional secara teoritis dapat di permudah dengan bantuan komputer mulai dari pembacaan data di lapangan yang dapat langsung di download ke komputer untuk pelaksanaan perhitungan poligon, perataan penghitungan (koreksi) dan lainlain, bahkan sampai pada proses pembuatan pemisahan warna secara digital sebagai bagian dari proses pencetakan peta.
Perkembangan lainnya adalah dapatnya peta-peta yang telah ada melalui proses digitasi baik secara manual menggunakan digitizer/mouse maupun dengan menggunakan scanner menyebabkan data dalam peta dapat ditransfer dari peta analog ke peta digital dan data dapat di perbaharui (ditambah maupun dikurangi dan lain-lain) sesuai kebutuhan pengguna.
Dengan berkembangnya teknologi satelit utamanya satelit navigasi yang dapat dipadukan dengan teknologi komputer, dampaknya terhadap bidang pemetaan juga semakin besar, yakni pembuatan peta melalui pemanfaatan citra satelit yang diedit/diolah dengan komputer. Mudahnya proses pembuatan peta tersebut juga dibarengi dengan kemudahan dalam hal memperbanyak, mentransfer, membuat duplikat (copy) kedalam disket atau media penyimpan/perekam lainnya sehingga mempermudah untuk disebar luaskan ataupun diperjual-belikan.
Tidak menutup kemungkinan hal itu dapat pula dilakukan terhadap peta-peta topografi buatan Dittop TNI-AD, peta-peta buatan Dishidros TNI-AL, peta-peta buat-an Dissurpotrud TNI-AU atau peta-peta lainnya yang berklasifikasi rahasia. Dipandang dari segi pertahanan, keamanan dan kepentingan militer, maka hal tersebut merupakan kerawanan, dimana sampai saat ini kita masih menekankan produk peta tersebut di atas merupakan barang yang berklasifikasi rahasia dan terbatas (tergantung kadarnya), dimana untuk memperolehnya harus melalui prosedur yang telah ditetapkan.Tantangan yang kita hadapi sekarang adalah bagaimana cara mengamankan data pemetaan digital khususnya yang menyangkut daerah rawan, obyek vital di wilayah Republik Indonesia.
a.       Pembuatan dan penggunaan peta digital.
Dengan semakin mudahnya proses pembuatan peta menyebabkan banyak pihak yang melibatkan diri dalam bidang survei dan pemetaan, khususnya yang bergerak dalam bidang penyediaan data spatial (muka ruang bumi) sesuai dengan keinginan pemesan/pengguna (user). Para produsen Selalu akan berusaha untuk dapat memenuhi keinginan dan pesanan dari para pengguna dan cenderung mengikuti permintaan pasar. Pada umumnya pihakpihak yang lapangan pekerjaannya berkaitan dengan perencanaan dan pemanfaatan ruang seperti halnya bidang transmigrasi, kehutanan, pertanian, perumahan, pekerjaan umum, pengembang perumahan dan lain-lain sangat membutuhkan peta sebagai salah satu sarana pokok dalam membuat perencanaannya. Sulitnya prosedur perolehan peta topografi merupakan salah satu faktor penyebab mereka mencari alternatif lain untuk memperoleh peta lain yang dapat memberikan informasi tentang medan sebaik atau lebih baik dari peta topografi, dalam hal ini contohnya seperti peta rupa bumi produk Bakosurtanal. Dengan perkembangan teknologi belakangan ini beberapa bagian wilayah Indonesia telah diliput dengan citra satelit dan direkam/disimpan dalam media compact disk yang dapat dipesan oleh pihak pengguna sesuai kebutuhan dan daerah yang dibutuhkan.
b. Pembuatan peta digital.
Ø  Ditinjau dari segi efisiensi pembuatannya ada kecenderungan semakin banyak pihak yang berkecimpung dalam pem buatan peta digital, karena prosesnya akan lebih singkat dibandingkan dengan pembuatan peta secara konvensional.
Ø  Dengan memanfaatkan sistem digitasi dengan digitizer (mouse) dan scanner dalam proses digitasi peta-peta yang telah ada, tidak menutup kemungkinan peta-peta yang di klasifikasikan sebagai dokumen rahasia akan diubah pula menjadi peta lain dalam bentuk data digital.
Ø  Pembuatan peta yang kemungkinannya lebih mudah dikembangkan adalah dengan pemanfaatan citra satelit. Hal ini disebabkan karena dengan orbit satelit yang setiap saat mengitari bumi termasuk wilayah Republik Indonesia, membuat cakupan rekaman data tentang kenampakan permukaan bumi wilayah Indonesia dapat direkam semuanya dan dapat dipetakan sesuai periode waktu yang ditetapkan. Salah satu kesulitan dalam proses pemetaan dengan citra satelit adalah masih diperlukan proses interpretasi data obyek yang ada pada citra satelit, sehingga diperlukan pengecekan lapangan (field checking) dan data/peta lain untuk ketepatan informasi tentang data yang dipetakan. Namun kesulitan ini dapat diatasi sendiri oleh pihak pengguna dengan jalan melaksanakan kegiatan pengecekan lapangan sendiri sesuai kebutuhan.
Ø  Sampai saat ini yang dapat mengoptimalkan pemetaan secara digital menggunakan citra satelit dan pemanfaatannya adalah pihak/lembagalembaga di luar negeri.
Di Indonesia sendiri baru akan dilaksanakan dan telah dilaksanakan persiapan-persiapan ke arah pemetaan digital. Dengan dikembangkannya pemetaan digital oleh pihak-pihak asing, tidak menutup kemungkinan data mengenai wilayah Indonesia justru lebih dikuasai oleh pihak luar, sehingga pihak kita justru harus membeli untuk dapat memiliki dan memanfaatkannya.

b.      Penggunaan peta digital.
Penggunaan peta digital pada dasarnya sama saja dengan peta biasa, hanya wujudnya yang agak berbeda, dimana peta biasa hanya dapat digunakan dalam bentuk lembaran atau helai sedangkan peta digital selain ada peta seperti halnya peta biasa disertai data yang telah tersimpan dalam media perekam seperti magnetik tape, disket, compact disc, flashdisk, hardisk, dan lain-lain sehingga sewaktu-waktu dapat diedit dan dicetak kembali sesuai kebutuhan. Dengan kemudahan pengolahan dan pemindahan dari media komputer ke media penyimpan data seperti tersebut di atas membawa dampak negatif antara lain :
Ø  Dapat di salah gunakan oleh pihak-pihak yang tidak berwenang dan dapat diperbanyak, diberikan kepada pihak lain serta dapat diperjual-belikan secara bebas. Dengan kata lain jatuh ke tangan pihak yang tidak seharusnya boleh memperoleh dan mempergunakannya tanpa mendapatkan ijin dari pemerintah Republik Indonesia.
Ø  Terjadinya pembocoran data kekayaan alam, dislokasi militer dan segala sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia negara. Hal ini disebabkan dengan berbagai teknik interpretasi citra yang ada, baik dengan cetode (band) dan lain-lain maka semua yang ada baik dipermukaan wilayah maupun dibawah permukaan tanah dapat diketahui.
Ø  Data tentang kondisi medan/alam wilayah Republik Indonesia dapat ditransfer secara langsung dan secara cepat dengan menggunakan jaringan komputer yang saling dihubungkan (menggunakan modem), sehingga untuk kepentingan taktis maupun strategis pihak lawan/musuh dapat sewaktu-waktu dimonitor di/dari tempat lain. Tentunya hal ini akan sangat merugikan bagi bidang pertahanan keamanan/militer negara kita.
Ø  Penggunaan peta digital yang diharapkan (memperoleh ijin)
redaksional Masalah pembuatan peta digital terutama melalui penggunaan citra satelit sangat sulit untuk dicegah, terutama dengan perkembangan teknologi satelit navigasi yang sangat cepat. Selain itu yang me-nguasai teknologi satelit justru negara lain seperti Amerika (Lansat, Seasat dan Geosat), Perancis (SPOT), Kanada (Radarsat) dan lain-lain, sehingga mereka dengan sendirinya dapat memanfaatkan data citra satelitnya baik untuk kepentingan dalam negerinya sendiri maupun untuk dapat mengetahui keadaan/kondisi negara-negara lain. Demikian pula dalam penggunaannya semua pihak pengguna dapat secara langsung memesan / membeli kepada lembaga/perusahaan yang membuat peta tersebut. Sesuai dengan hal -hal tersebut di atas, maka dalam pembuatan dan penggunaan peta-peta digital tersebut seharusnya melalui prosedur yang ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia.
Walaupun dalam proses pembuatannya sulit untuk dipantau dan dimonitor, namun sebaiknya pembuatan peta-peta digital mengindahkan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
Ø  Dalam pembuatan peta baik dari proses digitasi peta-peta yang diklasifikasikan sebagai dokumen rahasia, harus memperoleh ijin dari pemerintah RI, dalam hal ini diberlakukan seperti porosedur untuk memperoleh peta Topografi TNI-AD. Tidak diijinkan melakukan proses digitasi terhadap peta topografi atau peta lainnya tanpa seijin pemerintah RI dalam hal ini instansiinstansi terkait antara lain : Departemen Dalam Negeri RI, Departemen Pertahanan RI, Mabes TNI, Bais TNI dan Angkatan.
Ø  Khusus tentang proses pembuatan peta digital dari citra satelit yang dilakukan baik oleh pihak-pihak/lembaga dalam negeri maupun luar negeri, perlu pula diatur dalam bentuk perundangundangan survei pemetaan tersendiri. Terutama terhadap pembuat peta digital dari pihak-pihak/lembaga di luar negeri perlu diatur dalam bentuk perjanjian/kesepakatan bersama di forum internasional. Perlu untuk didapat/diperoleh kepastian tentang sampai sejauh mana pihak lain dapat menggunakan keunggulan wilayah suatu negara/negara lain.
Semakin banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan perencanaan pembangunan dan pelaksanaan pembangunan terutama yang berkait-an dengan penggunaan tanah/lahan secara langsung, salah satunya membutuhkan tuntutan data yang akurat dan cepat tentang medan/permukaan bumi dalam skala/kadar tertentu sesuai dengan
adanya peta yang dapat diolah/diedit dengan cepat melalui ketentuanketentuan sebagai berikut :
1.        Data peta digital yang telah ada tidak boleh dengan mudah untuk diperjualbelikan dengan bebas tanpa melalui prosedur dan ketentuan yang diberlakukan oleh Pemerintah RI.
Prosedur yang diberlakukan dapat disamakan dengan prosedur permintaan peta topografi produk Direktorat Topografi TNI-AD sesuai dengan kadarnya.
2.        Dalam hal pemilikannya perlu pula diatur ketentuan/per-undangan yang menentukan lembaga atau instansi mana yang berhak untuk memiliki sekaligus menggunakannya.
3.        Penggunaan data peta digital tersebut telah mendapatkan ijin dari instansi yang berwenang dan mengawasi penggunaannya.
4.        Penggunaan data peta digital haruslah terkoordinir dengan baik, baik dilingkungan instansi pemerintah sendiri maupun pada lembaga-lembaga/perusahaan swasta yang membutuhkannya.
5.        Penjualan data peta digital kepada pengguna swasta juga harus atas seijin lembaga atau instansi yang berwenang dan mengawasi data tersebut. Dalam hal ini termasuk diberlakukan ketentuan seperti halnya larangan untuk melakukan duplikasi (copy) atau pembajakan data peta digital dengan pengawasan yang ketat disertai sanksi hukum yang berat.
Faktor yang berpengaruh terhadap pelaksanaan pengamanan.
Dalam rangka mewujudkan kondisi pembuatan maupun penggunaan data pemetaan digital seperti yang diharapkan, tidak terlepas dari kendala yang ada berupa adanya faktor-faktor baik yang mendukung maupun yang menghambat. Faktor-faktor yang mendukung antara lain terdiri atas :
1.        Perundang-undangan survei dan pemetaan yang ada.
Walaupun perundangan Surta (Survei Tanah) yang ada masih bersifat mengatur kegiatan dan wewenang serta tanggung jawab masing-masing lembaga/instansi, permatra ataupun perbidang seperti matra darat (DittopTNI-AD),matra laut (Dishidros TNI-AL),matra udara (Dissurpotrud TNI-AU), Mabes TNI (PUSSURTA TNI), Dephan (Ditwilhan), Bakosurtanal dan instansi pemerintah lainnya, sedikit banyak telah menetapkan lembaga/instansi yang berwenang dan berkompeten mengatur/mengadakan pekerjaan survei dan pemetaan. Ketentuan yang berlaku dalam perundangan yang ada dapat diterapkan terhadap pembuatan dan prosedur untuk memperoleh, menyimpan maupun menggunakan data peta digital. Bila perundangan Surta secara nasional dapat diberlakukan diharapkan akan berdampak positif terhadap kegiatan survei pemetaan wilayah nasional RI termasuk terhadap pemetaan digital tersebut
2.        Sumber daya manusia.
Tenaga ahli yang memahami dan menguasai tentang seluk beluk kegiatan survei dan pemetaan termasuk pemetaan digital di Indonesia merupakan potensi yang mendukung pelaksanaan pembuatan maupun penggunaan data pemetaan digital seperti yang diharapkan. Terhadap mereka perlu diberikan masukan tentang pentingnya langkah-langkah pengamanan terhadap data pemetaan digital, sebab orientasi mereka terutama terhadap aspek pemanfaatan data (terutama peta) secara optimal, sehingga mereka mengabaikan segi pengamanannya yang antara lain disebabkan oleh :
a.              Ketidak mengertian tentang perlunya tindakan pengamanan terhadap data tersebut. Hal ini terjadi karena menurut persepsi mereka yang terpenting adalah bagaimana dapat tersedianya data guna dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan perencanaan pembangunan. Keadaan demikian juga dilakukan oleh tenagatenaga ahli yang bergerak dan bekerja di sektor swasta.
b.             Belum jelasnya klasifikasi tentang data peta bagaimana yang digolongkan rahasia. Oleh sementara orang, masih rancuh.
c.              Pengertian tentang data peta yang dianggap rahasia Dengan pemberian masukan dan informasi yang jelas tentang kedua aspek tersebut di atas, maka sumber daya manusia yang ada akan sangat membantu terhadap kegiatan pengamanan yang akan dijalankan.
Faktor-faktor yang menghambat dalam Pemetaan digital
I.          Perkembangan teknologi.
Dalam hal ini perkembangan teknologi di bidang satelit navigasi selain membawa dampak positif juga membawa dampak negatif khususnya dalam upaya pengamanan data peta digital dikatakan sebagai penghambat karena dengan kemajuan teknologi yang ada memungkinkan peliputan seluruh permukaan bumi dengan sensor/receiver yang diletakkan pada wahana satelit semakin mudah, apa lagi saat ini tingkat kemampuan resolusinya semakin tinggi.
Pelaksanaan pemetaan secara parsial.
Pada kenyataannya pelaksanaan pemetaan yang diselenggarakan di Indonesia dilakukan oleh beberapa instansi pemerintah baik sipil maupun militer, maupun oleh lembaga swasta yang menjadi kontraktor dalam pelaksanaan survei dan pemetaan. Kondisi tersebut disebabkan dengan dasar operasi mereka adalah Undangundang Surta yang dimilikinya. Hal ini menyebabkan kesulitan untuk memantau efisiensi pelaksanaan pemetaan wilayah nasional. Berkaitan dengan pengamanan penggunaan data peta digital dengan dilaksanakannya kegiatan survei dan pemetaan secara parsial lebih menyulitkan lagi dan tingkat kebocoran dan penyalahgunaan data tersebut semakin besar, karena perputaran maupun jaringan.
Klasifikasi tentang penggunaan peta.
Masih kurang jelasnya tentang klasifikasi mengapa peta topografi tergolong rahasia membutuhkan suatu upaya untuk meluruskan/menyamakan persepsi kita tentang klasifikasi tersebut. Disamping itu perlu juga dipertimbangkan untuk mengadakan pengkriteriaan tertentu terhadap peta-peta yang benar-benar tergolong berklasifikasi rahasia. Selain itu perlu juga dilakukan pengklasifikasian penggunaan peta antara lain sebagai berikut
1.        Penetapan bahwa peta digital yang diklasifikasikan rahasia berupa hasil modifikasi peta topografi atau hasil pemetaan dari citra satelit dengan penonjolan data militer misalnya untuk kedar 1:25.000 sampai 1:100.000, penggunaannya terbatas untuk lingkungan TNI dan Dephan.
2.        Peta-peta lain berbagai kadar tanpa penonjolan data militer dapat dipergunakan juga oleh instansi sipil dan swasta sesuai prosedur yang berlaku, dengan tingkat klasifikasi sesuai dengan kadarnya.
3.        Terhadap peta-peta tematik digital yang tidak bertemakan data militer dapat dipergunakan langsung oleh pihak umum. Pada umumnya banyak juga peta tematik yang dibuat secara digitasi.
4.        Diadakan pembedaan yang jelas antara peta yang hanya digunakan oleh pihak militer dan peta mana yang boleh digunakan oleh pihak lain (sipil dan swasta). Hal ini agar tidak menimbulkan kerancuan tentang peta mana yang tergolong rahasia dan mana yang bukan.
5.        Dengan tersedianya tenaga/sumber daya manusia yang berkwalitas dalam penanganan pemetaan digital merupakan modal utama dalam proses pengamanannya.


Penggunaan perangkat lunak dalam pemetaan digital untuk pemula

Memulai program AutoCAD pada komputer
Untuk memulai program AutoCAD (Computer Aided Design) Dibagian atas ada sederetan menu “pull down”kemudian dibawahnya, disamping, dan atau di bagian bawah ada sekumpulan
ikon dalam “toolbar”yang dapat diakses langsung . Formasi ini bisa jadi tidak nampak seperti pada gambar diatas

Mengakses perintah
Perintah-perintah AutoCAD dapat diakses melalui tiga cara, yakni:
1. Melalui baris menu utama (pull down menu)
2. Melaui ikon yang tersedia pada toolbar yang ada , atau
3. Secara konvensional yang dapat diketikkan langsung pada baris perintah

Di bagian atas ada sederetan menu “pull down”kemudian dibawahnya, disamping, dan atau di bagian bawah ada sekumpulan ikon dalam “toolbar”yang dapat diakses langsung . Formasi ini bisa jadi tidak nampak seperti pada gambar diatas

Mengakses perintah
Perintah-perintah AutoCAD dapat diakses melalui tiga cara, yakni:
1.      Melalui baris menu utama (pull down menu)
2.      Melaui ikon yang tersedia pada toolbar yang ada
3.      Secara konvensional yang dapat diketikkan langsung pada baris perintah
Menyiapkan digitizer
a)        Instalasi Digitizer
Jika kita baru pertama kali memasang digitizer, langkah awal yang harus kita kerjakan adalah memasangnya sesuai petunjuk alat. Pada AutoCAD 2005, instalasi digitizer ditangani oleh sistem operasi Windows.
Digitizer yang baru umumnya dilengkapi dengan Wintab driver yang dapat dikenali oleh Windows. Jika digitizer telah dapat digunakan pada sistem operasi Windows, AutoCAD otomatis dapat membaca peranti digitizer tersebut. Digitizer dalam hal ini dapat kita pasang bersama-sama dengan mouse yang sudah ada. Jika mouse pada COMl, digitizer dapat kita pasang pada COM2.
Setelah digitizer terbaca oleh sistem operasi Windows, pada AutoCAD ikuti langkah instalasi berikut.
·           Klik Tools > Option > System, akan muncul kotak dialog yang salah satu bagiannya adalah kotak "Current Pointing Device".
·           Pada kotak tersebut, ada kotak pilihan yang jika diklik berisi Current Pointing Device dan Wintab Compatible Digitizer, pilihlah "Wintab Compatible Digitizer.... ".
·           Persis di bawahnya ada dua tombol opsi yang akan aktif begitu kita memilih Wintab Digitizer, yakni opsi "Digitizer only" dan "Digitizer and mouse". Pilihan pertama akan menonaktifkan mouse dan pointer yang berlaku hanya digitizer. Sementara pada pilihan kedua, baik mouse maupun digitizer akan samasama dapat digunakan. Apa pun yang kita pilih, tidak menjadi masalah. Namun jika pada saat kalibrasi tablet kita mengalami kesulitan karena kendali kursor berpindah-pindah terlalu dinamis antara mouse dan digitizer, pilihlah terlebih dahulu "Digitizer only".Klik OK untuk mengakhiri sesi ini.
·           Digitizer mestinya sudah dapat difungsikan. Cobalah gerakan pointer pada digitizer. Pointer pada layar mestinya ikut bergerak. Kemudian jika mouse digerakkan, secara otomatis kursor pada layar mengikuti gerakan mouse, ini jika pilihan yang kita ambil adalah "Digitizer and mouse ". Pengujian yang perlu dikerjakan adalah menguji fungsinya dan menguji tingkat akurasinya. Untuk menguji digitizer, kita memerlukan sebuah grid plate, atau dapat pula menggunakan kertas yang di atasnya telah kita beri grid dengan jarak tertentu. Kertas grafik yang berkualitas baik dapat kita gunakan.
Untuk menguji digitizer, prinsipnya adalah melakukan kalibrasi dengan grid yang kita anggap benar koordinatnya. Sebagai contoh, kita gunakan grid dari kertas graft, lalu kita tentukan empat titik A, B, C, dan D, seperti pada Gambar, dan masing-masing kita beri koordinat A(0,0), B(3000,0), C(3000,2000), dan D(0,2000). Oleh karena jarak AB pada kertas adalah 30 cm, gambar tersebut berskala 1:1000.
Tempatkan grid tersebut di atas meja digitizer, lalu ikuti langkah-langkah berikut.
Ø  Letakkan kertas grid di atas meja digitizer.
Ø  Pilih menu Tools > Tablet > Cal. 3. Pada perintah "Digitize point #1:", arahkan pointer ke grid A, klik tombol OK digitizer.
Ø  Pada baris perintah akan muncul "Enter coordinates of point #1:" Masukkanlah angka 0,0 lalu tekan Enter.
Ø  Teruskan langkah tersebut dengan mengarahkan pointer ke grid B, klik OK, kemudian masukkan angka 3000,0 lalu Enter.
Ø  Dengan cara yang sama, arahkan ke grid C dan D. Untuk grid C masukkan angka 3000,2000 sedangkan untuk grid D masukkan koordinat 0,2000.
Pada baris perintah akan ditampilkan statistik. Tingkat akurasi kalibrasi ditunjukkan oleh nilai root mean square error (RMS). Jika proses kalibrasi menggunakan grid yang benar dan proses pointing dilakukan dengan akurat dan sangat hatihati, nilai RMS tersebut akan berkorelasi dengan tingkat akurasi digitizer. Cara tersebut bisa diulang beberapa kali.
Jika perlu dengan operator yang berbeda, sehingga kita dapat melakukan analisis statistik. Makin banyak data, alias makin banyak sample, akan semakin memperkuat validitas pengujian.

Memulai digitasi
Sebelum memulai proses digitasi, siapkanlah terlebih dahulu tatanan layer sesuai dengan klasifikasi isi peta. Sebagai contoh, kita definisikan tatanan layer seperti berikut ini.

Membuat bingkai dan grid
Untuk memulai digitasi sebuah peta, letakkanlah peta yang akan didigitasi di atas digitizer, rekatkanlah dengan cellotape secukupnya. Langkah pertama buatlah bingkai peta. Sebagai contoh, kita akan mendigitasi sebuah peta rupa bumi skala 1:25.000 dari Bakosurtanal, lembar 1707- 334, Tabanan (Bali). Koordinat pojok peta ini sebagai berikut (UTM):
·         Tabel 45. Keterangan koordinat
·         Kiri-bawah :293667,9046097
·         Kanan-bawah :307427,9046162
·         Kanan-atas :307364,9059988
·         Kiri-atas :293600,9059923
Langkah pertama, kita buat terlebih dahulu bingkai luar petanya dengan langkahlangkah berikut.
Ø  Aktifkan layer "Bingkai" (jadikan current layer).
Ø  Klik menu Draw > Line. Kita gunakan line agar tiap sisi peta menjadi satu entitas terpisah untuk memudahkan proses pembuatan gratikul yang akan dijelaskan setelah ini.
Ø  Pada prompt "Specify start point", ketikkan koordinat kiri bawah peta (293667,9046097) lalu Enter.
Ø  Selanjutnya akan muncul promp "To point:", secara berturut-turut ketikkanlah koordinat-koordinat kanan-bawah, kanan-atas, dan kiri-atas, dan akhirnya ketikkan
Lihatlah gambaran prosedur tersebut seperti berikut ini.
Ø  Specify start point : 293667,9046097
Ø  To point : 307427,9046162
Ø  To point : 307364,9059988
Ø  To point : 293600,9059923
Ø  To point : C (ENTER)
Bisa jadi di layar kita tidak akan melihat gambar apa pun. Jika hal ini terjadi, penyebabnya karena posisi layar pada kondisi standard dengan pojok layar sekitar 0,0. Sedangkan gambar yang kita buat jauh di sebelah atas. Untuk menampakkan apa yang telah kita gambar, lakukan Zoom > Extent.
Dengan langkah 1 hingga 4 di atas, kita sudah membuat bingkai peta, yang dalam hal ini kebetulan bukan berbentuk persegi. Pada peta rupa bumi Bakosurtanal, garisgaris yang digambarkan secara penuh adalah garis gratikul, yakni garis lintang dan bujur (pada peta tergambar sebagai garis tipis warna biru), tergambar tiap jarak 1 menit. Jika kita menggunakan garis-garis ini sebagai referensi kalibrasi digitizer, kita harus menghitung terlebih dahulu koordinatnya dalam sistem UTM dengan hitungan transformasi koordinat. Grid dengan koordinat metrik (UTM) iinformasikan hanya sebagai tik (sepotong  garis kecil) pada sisi-sisi peta, tiap jarak 1000 m. Pada peta tik ini digambar dengan garis hitam. Angka-angka absis ditampilkan pada sisi bawah, sedangkan angka-angka ordinat pada sisi kanan. Pada peta asli, kita dapat menghubungkan tik-tik tersebut dengan pensil, sehingga diperoleh grid dalam sistem koordinat UTM. Untuk lembar peta 1707: 334, Tabanan, grid paling bawah kiri mempunyai koordinat 294000, 9047000. Grid lain berjarak linear 1000 m arah kanan dan 1000 m arah atas. Pada gambar digital, kita akan menggambarkan grid-grid ini tidak dalam garis penuh, melainkan dalam bentuk cross grid (tanda plus). Caranya seperti langkah-langkah berikut.
Ø  Aktiflkan layer GRID.
Ø  Klik menu Draw > Polyline atau (Line).
Ø  Pada perintah "Specify start point":, dengan mouse (atau digitizer) klik di sembarang tempat pada layar.
Ø  Berikutnya, pada perintah "To point:" ketikkan @375<0 lalu Enter, dan sekali lagi akhiri dengan Enter.
Ø  Lakukan hal yang sama sekali lagi.
Namun pada langkah ketiga, ketikkan @375<90.
Ø  Geser (dengan perintah Move) salah satu garis tersebut ke garis lainnya sedemikian hingga titik tengah kedua garis bertemu. Gunakan alat bantu osnap "mid".
Ø  Gunakan perintah Block, jadikan tanda silang tersebut sebagai block dengan nama GRID.
Kalibrasi digitizer
Kita sekarang akan melakukan kalibrasi, yakni mengorientasikan digitizer sesuai dengan koordinat peta. Digitizer yang kita gunakan adalah minimal ukuran Al, sehingga seluruh muka peta dapat masuk ke muka digitizer tersebut. Titik kontrol yang akan kita gunakan adalah pojok-pojok peta dan satu titik grid di tengah peta. Ikutilah langkah-langkah berikut.
Ø  Gunakan menu Tool > Tablet > Calibrate.
Ø  Pada baris perintah akan muncul "Digitize point #1:". Posisikan pointer  igitizer secara cermat persis di atas pojok kiri-bawah peta. Setelah benar-benar pas, tekan tombol OK pointer.
Ø  Pada perintah "Enter coordinates for point #1:", ketlkkan angka 293667,9046097 (ENTER).
Ø  Lanjutkan langkah tersebut untuk titiktitik pojok kanan-bawah, kanan-atas dan kiri-atas, serta salah satu grid di sekitar tengah peta, lalu tekan Enter untuk mengakhiri. 
Digitasi garis
Setelah proses kalibrasi, kini kita siap untuk "menjiplak" semua detail peta satu per satu ke layar monitor. Inilah proses digitasi.


Untuk detail garis, seperti sungai, jalan, batas vegetasi, batas perkampungan, garis pantai dan sebagainya, kita harus melakukan tracing garis-garis tersebut.
Misal :
Ø  Aktifkan layer "Jalan_Arteri".
Ø  Kita akan mendigitasi garis jalan dengan polyline 2D. Oleh karena itu, klik menu Draw > Polyline.
Ø  Pada perintah "Specify start point", tempatkan pointer pada titik awal salah satu sisi jalan arteri, klik tombol OK pointer.
Ø  Selanjutnya pindahkan ke titik 2, 3, dan seterusnya, klik OK pada setiap titik.
Setelah langkah-langkah di atas, di layar akan tergambar ruas jalan yang baru saja didigitasi (jalan arteri sisi kanan jalan). Oleh karena kedua sisi jalan paralel, untuk sisi lainnya dapat di-offset dari sisi yang baru digambar.
Ø Klik menu Modify > Offset.
Ø Pada pilihan "Specify offset distance or [Through]" pilih Through dengan mengetikkan T lalu Enter atau cukup tekan Enter karena posisi standard pilihannya adalah Through.
Ø Pilih objek garis jalan pada saat muncul "Select object to offset".
Ø Pada prompt "Specify through point", tempatkan pointer digitizer tepat pada sisi kid jalan, lalu klik OK.
Ø Tepat di posisi tersebut mestinya akan tergambar sisi kiri jalan yang paralel dengan sisi kanannya. Untuk mengakhiri perintah offset, tekanlah Enter.
Dua sisi jalan telah tergambar. Sekarang akan kita coba untuk menggambar ruas jalan lokal yang menyambung ke jalan arteri tersebut. Caranya:
Ø Aktifkan layer "Jalan_Lokal".
Ø Klik menu Draw > Polyline.
Ø Pada prompt "Specify start point", untuk menyambung tepat ke ruas jalan arteri, gunakan osnap "nearest".
Ø Teruskan digitasi jalan lokal tersebut dengan menelusurinya. Sisi jalan sebelahnya boleh di-offset.
Penjiplakan digitasi dengan autocad
Untuk lebih memahami perangkat ini dari dasar printah-perintah yang sering dipakai dalam digitasi peta di antaranya:
Ø Line/Polyline, extension atau perpanjangan garis atau obyek, Hatch, layer, copy, move,distant dan lainnya yang sering dipakai dalam digitasi peta. Namun tidak semua perintah yang ada dalam menu toolbar sering dipakai dalam digitasi ini. Memulai dengan AutoCAD
Ø Untuk mengoperasikan perangkat lunak CAD untuk pertama kalinya buka file dan pilihlah perintah New
Ø Karena dalam digitasi peta merupakan kegiatan menjiplak peta atau memperbarui peta yang ada dengan penambahan-penambahan obyek yang ada. Dengan terlebih dahulu peta yang ada discanner maka peta dapat dibuka dalam aplikasi CAD dengan mengklik perintah toolbar yang ada dibagian atas yaitu perintah Insert selanjutnya klik perintah Raster Image selanjut browser file peta hasil scanner maka akan muncul di layar di CAD itu sendiri - Namun harus jadi catatan bahwa peta hasil scanner itu harus diskalakan sesuai ukuran asli dipeta, dengan mengetik perintah dengan langkahlangkah sebagai berikut:
1.      Command
2.      Select obyek : Peta hasil scanner
3.      Select obyek ; spesify base point
4.      Spesify scale factor or (Reference)
5.      Spesify reference length
6.      Spesify new length
 Teknik Konversi Data Analog ke Data Digital dalam kartografi digital
Perkembangan teknologi telah membawa dampak terhadap berbagai disiplin ilmu, termasuk bidang kartografi. Sebagai ilmu dan seni tentang pembuatan peta termasuk kajiannya sebagai dokumen ilmiah maupun karya seni, perkembangan teknologi khususnya teknologi komputer telah memacu perkembangan kartografi yang kemudian memunculkan istilah kartografi digital. Secara sederhana, kartografi digital dapat diartikan sebagai penggunaan teknologi komputer dalam ilmu kartografi (Robinson et all, 1995)
Teknologi komputer sangat membantu kartografer dalam melaksanakan tugasnya, seperti: desain peta (map design), desain simbol (symbol design), isi peta (map content), tata letak peta (map lay-out), dan generalisasi (generalization). Komputer memberikan suatu alternative yang bersifat mutakhir dalam metode pembuatan peta dibandingkan dengan metode manual dan fotomekanikal. (Robinson et all, 1995).
Pembuatan peta dengan memanfaatkan teknologi komputer, dalam prakteknya, masih tetap memanfaatkan peta-peta manual yang merupakan produk dari kartografi “tradisional”. Melalui proses yang bisa disebut sebagai proses digitalisasi, peta-peta manual (analog) dikonversi menjadi layer-layer data digital yang menjadi “bahan” pembuatan peta digital.
Hasil dari proses digitalisasi, yaitu data digital, dapat disimpan dalam dua format yang berbeda yaitu raster dan vector. Kedua format data digital tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan, namun perkembangan teknolog telah memungkinkan konversi dari kedua format dilakukan dalam waktu yang cepat sehingga perbedaan antara keduanya tidak perlu dipermasalahkan. Pembahasan yang ada dalam praktikum ini dibatasi pada data digital dalam format vector.
Proses konversi data analog menjadi data digital, seiring dengan perkembangan perangkat keras dan perangkat lunak komputer, dapat dilakukan dengan berbagai cara. Secara garis besar proses konversi dari data analog menjadi data digital dapat dibedakan menjadi dua cara yaitu: cara manual dan automatis. Cara manual (ada yang menyebut sebagai cara manual konvensional) umumnya dilakukan dengan bantuan suatu interface yang biasa disebut digitizer. Adanya alat yang disebut dengan scanner, memungkinkan cara manual dilakukan tanpa menggunakan digitizer tapi dengan suatu teknik yang disebut digitasi on screen (disebut pula head up digitizing technique). Scanner, dengan bantuan perangkat lunak tertentu, juga memunculkan suatu teknik digitasi secara automatis (automated digitizing technique).
Teknik konversi data dari analog menjadi data digital seperti diuraikan di atas, masing-masing tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan yang ada pada satu teknik dapat digunakan untuk menutupi kekurangan pada teknik yang lain. Penguasaan terhadap teknik-teknik tersebut akan memberikan fleksibilitas yang lebih tinggi dalam proses konversi data analog menjadi data digital dengan mempertimbangkan alat yang tersedia. Digitasi on screen yang dilakukan dapat menggunakan software map info, ataupun melakukan digitasi automatis dengan software R2V.
2.  Desain dan penentuan jenis simbol dalam kartografi digital
Peta sebagai suatu produk kartografi dapat menyajikan berbagai karakteristik geografis yang penting dengan cara yang mudah dimengerti, menarik dan efisien. Cara dan proses dalam penyajian tersebut yang disebut dengan simbolisasi/ Symbolization (Robinson et all, 1994). Sesuai dengan istilahnya, maka salah satu proses penting dalam simbolisasi adalah desain simbol itu sendiri.
Desain simbol dalam kartografi pada prinsipnya dilakukan dengan memperhatikan dua aspek penting yaitu tingkatan data (level of measurement) dan dimensi datanya (dimensionality). Dimensi data secara geografis dapat dibedakan menjadi tiga yaitu dimensi nominal, ordinal, interval, dan rasio. Berdasarkan dua aspek penting tersebut (level of measurement dan dimensionality) akan diperoleh data dengan banyak kombinasi, sehingga diperlukan lebih dari satu unsur untuk membuat simbolnya
Unsur-unsur yang digunakan dalam mendesain simbol dikenal dengan sebutan variabel visual. Dalam kartografi “konvensional” ada 6 variabel visual yang digunakan dalam mendesain simbol, yaitu : bentuk (shape), ukuran (size), kepadatan (density), arah (orientation), nilai (value), dan warna (colour). Satu variabel visual dapat ditambahkan yaitu lokasi atau posisi, sehingga ada 7 variabel yang dapat digunakan.
Secara sederhana, desain simbol dapat dimulai dengan memperhatikan dimensi data yang akan disajikan (titik, garis, area), simbol yang akan digunakan harus sesuai dengan dimensi datanya. Bentuk simbol yang telah ditentukan, selanjutnya dapat digambarkan dengan dua cara yaitu abstrak dan piktorial. Pertimbangan selanjutnya adalah tingkatan data (nominal, ordinal, interval, rasio) dan sifat datanya (qualitatif, quantitatif). Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, sebagai contoh, dapat ditentukan bahwa simbol yang akan dibuat adalah simbol titik yang digambarkan secara abstrak mewakili data yang sifatnya kualitatif dan tingkatan datanya nominal. Simbol tersebut selanjutnya diwujudkan dengan bantuan variabel visual. Gambar berikut merupakan contoh simbol yang didesain menurut dimensi, variabel visual, dan persepsi untuk simbol abstrak.
Penggunaan komputer dalam pemetaan digital, memungkinkan bertambahnya variabel visual yang digunakan untuk mendesain simbol. Dengan komputer, variabel visual warna dapat dibedakan lagi berdasarkan dimensi dari warna itu sendiri yang tersusun dari Hue, Brightnes, dan Saturation. Dengan bertambahnya variabel visual yang dapat digunakan, variasi simbol yang dapat dibuat akan semakin banyak.
3. Proses generalisasi
Proses generalisasi dalam pembuatan peta yaitu pemilihan dan penyederhanaan elemen-elemen pada peta. Generalisasi muncul karena bertambahnya kepadatan isi peta oleh reduksi skala dan terbatasnya kemampuan mata dalam melihat ukuran minimum pada peta. Generalisasi berkaitan erat dengan skala peta dan tujuan pembuatan peta. Pada dasarnya, generalisasi dikelompokkan menjadi dua, yaitu generalisasi geometrik (penyederhanaan bentuk) dan generalisasi konseptual (penyederhanaan subyek yang dipetakan). Aspek generalisasi terdiri dari pemilihan, penyederhanaan, penghilangan, pembesaran, pergeseran tempat, menitikberatkan, kombinasi, dan klasifikasi. Sedangkan cara generalisasi dapat dilakukan secara langsung pada peta yang telah dikecilkan, peta asli sebelum dikecilkan, atau dengan skala perantara.
4. Layout peta dalam kartografi digital
Sebagai bagian dari karya seni, tampilan suatu peta memiliki arti yang penting. Tampilan yang bagus akan menarik pembaca peta untuk melihat dan selanjutnya berusaha mengetahui isi dari peta yang kita buat, sehingga tujuan dari pembuatan peta itu sendiri, yaitu memberikan informasi yang bereferensi spasial dapat tercapai.
Tampilan peta atau yang lebih dikenal dengan tata letak (lay-out) peta. Pada dasarnya, lay-out adalah cara penempatan unsur yang dipetakan beserta unsur-unsur kartografis lainnya. Unsur-unsur kartografis lain yang dimaksud adalah judul peta, skala peta, legenda/ keterangan tentang isi peta, petunjuk lokasi peta (inzet), dan unsur penting lainnya. Penempatan unsur-unsur tersebut beserta dengan isi peta, selain memperhatikan faktor estetika juga harus memperhatikan faktor kemudahan bagi pembaca untuk memahami isi dari peta.
Penggunaan komputer dalam kartografi sangat membantu kartografer untuk merancang tata letak peta. Perubahan terhadap suatu hasil rancangan dapat dilakukan dengan cepat sehingga desain yang menarik pun lebih mudah dihasilkan.
5. Diseminasi hasil dalam kartografi digital
Diseminasi hasil pemetaan memegang peranan penting dalam kaitannya dengan penyediaan informasi bereferensi spasial. Peta yang telah dihasilkan, akan berkurang artinya apabila tidak disebarluaskan kepada para penggunanya. Cara penyebarluasan hasil pemetaan digital telah berkembang pesat dengan tersedianya berbagai media penyimpan berkapasitas besar (compact disk, optical magneto disk, dll) dan adanya jaringan internet.
Pada umumnya, peta dibuat untuk diperbanyak (duplicated) dan disebarluaskan pada penggunanya. Duplikasi dalam rangka diseminasi hasil pemetaan dalam kartografi digital memiliki fleksibilitas yang tinggi karena hasilnya berupa file digital. Setidaknya ada 3 (tiga) cara diseminasi hasil pemetaan digital yang dapat dilakukan, yaitu: (1) menggunakan hasil cetak (print out) peta digital, hasilnya adalah paper map (hardcopy map), (2) menggunakan media penyimpan berkapasitas besar untuk menyimpan file peta digital (softcopy), dan (3) menggunakan media internet.
Diseminasi hasil pemetaan digital yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, selain mempunyai kelebihan tentu memiliki kelemahan juga. Kemudahan untuk membuat salinan (copy) file peta digital, kemudahan untuk melakukan perubahan terhadap peta digital. Di lain sisi, memberikan peluang terhadap pelanggaran hak cipta (Intellectual Property Right) atas suatu produk pemetaan digital. Kelebihan dan kekurangan yang ada pada suatu penggunaan teknologi harus sejak awal disadari, sehingga tindakan antisipatif dapat segera dilakukan.
D.    Perbedaan Peta Digital dan Peta Manual
Salah satu perbedaan antara data dijital dalam SIG dan peta manual adalah dalam kaitannya dengan atribut atau diskriptif data SIG yang dalam peta manual hanya sebatas berupa legenda peta. SIG mempunyai beberapa atribut yang penting. Informasi di dalam sistem ini harus diorganisasikan sedemikian rupa sehingga mempunyai fungsi jika digunakan. Akses pada informasi di dalam sistem harus diatur dengan baik dan secara benar diperbaharui. Informasi merupakan bagian yang terpenting untuk dapat mengambil keputusan. Tidak ada keputusan yang benar dapat diambil jika tidak tersedia informasi yang memadai sedangkan informasi yang salah akan mengakibatkan keputusan yang salah pula.
Masalah-masalah lainnya yang sering timbul dalam pengembangan database SIG, khususnya dalam masa transisi dari pemanfaatan peta manual ke penggunaan data dijital (SIG) antara lain :
·           Data yang dibutuhkan untuk membangun basis data dalam dalam suatu SIG biasanya tidak bersumber hanya pada satu institusi pembuat data dan biasanya tersebar pada berbagai macam institusi baik yang berupa data yang masih mentah maupun data yang sudah diolah dalam bentuk informasi.
·           Penyebaran data yang terdistribusi pada berbagai macam institusi, kadang-kadang menimbulkan permasalahan tersendiri berupa :
1.         sulitnya memperoleh data yang dibutuhkan (proses perijinan)
2.         konsistensi data yang tidak terjaga antara satu institusi dengan institusi lainnya.
3.         ketidaksesuaian definisi dari setiap data yang digunakan antara institusi penyedia atau pembuat data dengan pengguna data dan sebagainya.
DATA SHARING
Penggunaan SIG secara optimal tergantung pada kebutuhan para pemakai, sehingga persyaratan kebutuhan pemakai sangat penting untuk diperhitungkan dalam pembentukan basis data dan pengembangan perangkat lunaknya. Secara ekonomis SIG dinilai berhasil apabila dapat dimanfaatkan oleh berbagai macam pemakai. Kunci keberhasilan dari pengembangan SIG adalah apabila basis data telah digunakan bersama oleh para pemakai (Suharto, 1989). Oleh karena itu tentunya akan mendukung koordinasi lintas sektoral dalam pemanfaatan sumberdaya lahan untuk kepentingan pembangunan.
Hal khusus yang patut mendapat perhatian pada saat ini ialah konsepsi sharing data antara satu instituai dengan institusi lainnya. Ini tidak hanya berarti membagi data yang ada pada satu institusi kepada institusi lainnya. Menurut Akbar (1995) masalah yang sering dihadapi saat ini di Indonesia, ialah adanya perbedaan persepsi mengenai suatu jenis data antara institusi pembuat data (peta) dan institusi pengguna data (peta). Data (peta) yang dihasilkan oleh pembuatnya seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan institusi penggunanya, dilain pihak institusi pengguna tidak mempunyai “wewenang” dalam membuat data (peta)nya sendiri. Sehingga seringkali “blow-up” peta (data) menjadi solusi yang sering digunakan yang tentu saja tidak tepat dalam rangkaian proses analisis.
Pada bagian lain Akbar (1995) mengungkapkan bahwa, aplikasi SIG pada beberapa instansi/Unit/departemen yang menerapkan konsepsi sharing data akan mendapatkan keuntungan ekonomi secara nyata (tangible) dalam artian pengiritan biaya, peningkatan produktivitas (sebesar 25% - 75% dibandingkan sistem manual) dan menghindari duplikasi dari suatu fungsi.
Salah satu keuntungan ekonomi tidak langsung adalah peningkatan kualitas koordinasi yang didasarkan pada definisi yang sama berkaitan dengan aspek lokasi (ruang).
Dengan memahami pengertian bahwa SIG adalah suatu sistem informasi yang digunakan untuk me-manage dan menganalisis data yang dapat ditunjukkan atau digambarkan pada peta dan pengertian sharing data sebagai penggunaan yang sama oleh dua atau lebih organisasi/institusi, maka yang disebut dengan sharing data dalam SIG adalah penggunaan data yang sama yang dapat ditunjukkan atau digambarkan pada peta oleh dua atau lebih institusi.
P E T A
Peta dapat didefiniskan sebagai suatu alat penyajian secara grafis tentang penyebaran kenampakan-kenampakan geografis atau fenomena yang ada pada permukaan atau di dalam bumi. Pengertian kata spasial adalah mengacu kepada ruang suatu wilayah geografis tertentu. Informasi spasial juga bisa diartikan sebagai geoinformasi yang bentuk penyajiannya berupa peta (Suharto, 1989). Informasi tentang data spasial dapat berupa informasi sumberdaya lahan (batuan, tanah, hutan, air, mineral), sumberdaya sosial (penduduk), sumberdaya ekonomi, dll. Data spasial yang ada dalam peta mengandung informasi tentang daerah yang disajikan, yaitu informasi tentang posisi geografis pada permukaan bumi, hubungan antara berbagai kenampakan, jenis dan nama kenampakan, dll.
Peta Topografi, Peta Tematik dan Peta Dasar
Jenis peta secara garis besar hanya ada dua. Peta topografi dan peta tematik. Peta topografi bersifat umum sehingga penyajiannya tidak menonjolkan satu aspek, sedang pada peta tematik penyajiannya dengan menonjolkan tema/topik sesuai dengan judul peta itu sendiri. Misalnya, penyajian jenis jalan di peta topografi tidak menonjol antara satu ruas jalan dengan ruas jalan lain yang jenis jalannya berbeda, ruas jalan tersebut di peta topografi juga tidak lebih menonjol dibandingkan dengan –misalnya- pola aliran sungai. Tetapi di peta tematik tentang –misalnya- status jalan, ruas jalan yang statusnya berbeda akan tampak ditonjolkan dibandingkan dengan aspek lainnya.
Peta dasar merupakan dasar untuk memetakan informasi spasial sehingga informasi-informasi tersebut, baik secara relatif maupun absolut menempati lokasi geografis yang benar. Peta dasar dapat berupa peta topografi secara lengkap atau sudah dikurangi informasinya agar tidak rancu dengan informasi tematiknya. Peta topografi yang sering digunakan sebagai peta dasar dalam pembuatan peta tematik sudah standar, baik dalam ukuran kertasnya, luas liputannya, maupun penyajian aspek kartografi lainnya. Peta tematik itu sendiri merupakan suatu peta yang menyajikan informasi khusus yang mempunyai satu tema. Peta tematik banyak sekali macamnya, seperti peta sistem lahan, peta penggunaan lahan, peta tanah, peta geologi, peta penyebaran jumlah penduduk, dll.
Skala Peta
Di dalam membaca peta, perlu diketahui karakteristiknya dalam hal skala, resolusi, proyeksi, dan areal cakupan. Skala peta adalah angka pengecilan yang digunakan untuk dapat menyajikan sebagian permukaan bumi di atas peta. Skala peta dirumuskan sebagai perbandingan antara jarak di peta dengan jarak di permukaan bumi. Penentuan skala tergantung dari informasi dan besar daerah yang akan dipetakan. Suatu peta berskala besar, misalnya 1:5000, akan menyajikan tampilan-tampilan sangat detil akan tetapi cakupannya akan kecil. Sebaliknya pada peta berskala kecil, misalnya 1:250.000, akan menyajikan daerah yang luas tetapi informasinya kurang detil karena angka perkecilannya besar.
Tingkat ketelitian dari suatu peta dinyatakan dengan resolusi peta, yang berkaitan dengan skala. Pada peta skala besar, resolusi dari tampilan mendekati keadaan sebenarnya. Semakin kecil skala peta, resolusinya semakin rendah. Tingkat resolusi peta berhubungan dengan tingkat generalisasinya.
Dalam hal mempermudah pemetaan, daerah permukaan bumi yang akan dipetakan dibagi-bagi ke dalam daerah cakupan peta, yang dinyatakan dalam lembar-lembar peta. Lembar peta disusun dalam bentuk empat persegi panjang yang ukurannya tergantung dari beberapa faktor, seperti kemudahan pemakaian, ukuran mesin cetak, printer/plotter, dll.
skala
Jenis skala ada tiga, skala numeric berupa angka (misalnya 1:1.000.000), skala batang berupa grafik yang digambarkan dalam ukuran di peta dengan keterangan ukuran sebenarnya di permukaan bumi. Dan satu lagi yang jarang digunakan adalah skala tekstual, yang bentuknya, misalnya : “skala satu dibanding satu juta”.
Karena dibatasi oleh skala dan proyeksi, maka peta tidak akan pernah selengkap dan sedetail aslinya. Ada penyederhanaan dan pemilihan unsure yang disajikan. Hanya peta dengan skala 1:1 yang benar.
Proyeksi Peta
Proyeksi peta adalah suatu sistem penyajian permukaan bumi pada bidang datar, dua dimensi. Karena bentuk bumi adalah ellipsoida, maka informasi dalam peta yang berupa bidang datar akan mengalami perubahan atau distorsi, yaitu pada bentuk, luas, jarak atau arah. Dari segi distorsi dapat dikatakan bahwa ada sistem proyeksi yang paling baik untuk suatu penggunaan tertentu. Oleh karena itu, ada sistem proyeksi yang hanya dapat secara teliti menyajikan luas sebenarnya, yang disebut proyeksi tepat luas atau equal area.
Suatu jenis proyeksi yang dapat secara teliti menyajikan bentuk tampilan sebenarnya disebut proyeksi tepat bentuk atau conformal. Biasanya proyeksi conformal juga menyajikan secara teliti tentang arah (atau sudut) relatif antara tampilan-tampilan. Suatu proyeksi yang dapat menyajikan secara teliti tentang jarak antara dua titik di peta disebut proyeksi tepat jarak atau equidistant. Proyeksi yang dengan teliti dapat menyajikan arah atau azimuth antara titik-titik di peta dengan titik pusatnya disebut proyeksi arah azimuthal.
zone utm
Informasi geografis yang disajikan dalam bidang proyeksi peta adalah berdasarkan pada garis lintang dan bujur (meredian). Besaran-besaran tersebut merupakan besaran sudut yang diukur dari pusat bumi ke titik di permukaan bumi. Garis lintang diukur ke arah utara dan selatan, sedangkan garis bujur ke arah timur dan barat. Garis-garis bujur berawal dan berakhir di kutub utara dan kutub selatan.
Data dalam SIG sebaiknya digambarkan dengan menggunakan proyeksi yang sama. Suatu SIG biasanya mendukung beberapa sistem proyeksi dan mempunyai kemampuan untuk mentransformasikan satu proyeksi ke sistem proyeksi lainnya. Sistem proyeksi yang paling umum dipakai dalam pemetaan adalah sistem UTM (Universal Transverse Mercator). Sistem proyeksi UTM adalah sistem koordinat bidang yang didasarkan pada system transverse mercator. Proyeksi dalam sistem ini permukaan bumi dibagi menjadi 60 zone yang masing-masing ‘selebar’ 6 derajat pada garis bujur (longitude). Setiap zone dinomori, kemudian dilakukan pembagian setinggi 8 derajat pada garis lintang (latitude) yang diberi dengan kode huruf.
Dalam proyeksi UTM, Provinsi Kalimantan Timur yang sebagian besar wilayahnya ada di antara 114 0’ 0” BT sampai 120 0’ 0” BT dan 8 0’0” LU sampai 8 0’ 0” LS masuk dalam zone UTM 50, untuk wilayah Kalimantan Timur yang ada di bawah katulistiwa (equator - 0 0’ 0” LU/LS) sampai dengan 8 0’ 0” LS zone UTM 50M (50 South/Selatan), sedang yang berada di sebelah utara equator sampai dengan 8 0’ 0” LU masuk dalam zone UTM 50N (50 North/Utara).
RASTER DAN VEKTOR
Format data yang diolah dalam SIG dapat berupa data vector (mempunyai nilai arah, koordinat, dan warna yang resolusinya dalam SIG tergantung skala peta masukan) dan raster (berupa grid yang resolusinya tergantung pixel - picture element, nilai dari data raster tergantung pada pixel, koordinat pixel dan intensitas warna). Data vector dapat berasal dari hasil pengukuran di lapangan, baik melalui GPS maupun theodolith, atau digitasi dari peta, sedang data raster antara lain berupa citra satelit, foto udara, atau hasil scanning.
raster dan vektor

E.     Peta Zaman Dahulu dan Peta Sekarang
Teknologi pemetaan yang ada dahulu amat berbeda dengan yang ada pada masa kini. Jika kita beranjak keluar dari masa Idrisi dan Gerardus Mercator (pada masa dimana alat ukur teodolit sudah ada), maka akan terlihat perbedaan mencolok antara keduanya. Dahulu, dengan menggunakan teodolit, sorang juru ukur melakukan pengukuran suatu area dengan terjun langsung menembus belantara yang ganas sehingga untuk menghasilkan peta memerlukan waktu yang cukup lama. Belanda yang dahulu pernah menjajah Negara kita adalah sedikit dari salah satu para jago dalam hal teknologi pemetaan pada saat itu. Kita pun beruntung karena peninggalan titik kontrol peta masih ada dan bahkan dipakai juga oleh kita hingga kini.
Selain melakukan pengukuran triangulasi dari titik-titik kontrol yang sudah ditentukan, para juru ukur juga harus melakukan pemetaan garis kontur, toponimi, jalan, sungai, serta kondisi permukiman pada saat itu. Tak terbayang juga berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan selembar peta yang sudah jadi. Sehingga tak heran jika peta yang dihasilkan adalah informasi yang sangat berharga karena memuat informasi keadaan alam yang ada pada saat itu.
http://anggigeo.files.wordpress.com/2011/11/teodolit.jpg?w=510
Saat ini dengan berkembangnya teknologi pemetaan seperti GPS tentunya mempercepat proses dalam proses pembuatan peta dengan ketelitian yang tak jauh beda jika dikerjakan dengan cara manual. Teknik pemetaan pun beralih, dari teknologi intip-intip melalui teodolit menuju teknologi pencet-pencet melalu alat GPS. Saat ini teknologi GPS untuk keperliuan navigasi sudah menghasilkan ketelitian hingga 5 meter sedangkan untuk geodetic bahkan mencapai tingkat ketelitian hingga sentimeter. Konon, sistem GPS militer milik Amerika sudah memiliki tingkat ketelitian hingga millimeter namun tertutup dan rahasia.
http://anggigeo.files.wordpress.com/2011/11/gpsd.jpg?w=300&h=204
Sistem dulu dan sekarang
Antara pemetaan dahulu dan sekarang, sama-sama memuat informasi geografis. Yang membedakan adalah sistemnya. Dahulu data-data peta disimpan secara manual hingga berlembar-lembar banyaknya. Selain memenuhi ruangan, lembaran peta pun berpotensi rusak karena pengaruh cuaca atau lapuk karena umur. Berbeda dengan saat ini dimana informasi peta disimpan dalam format digital atau terkomputerisasi. Jika kita melakukan perbandingan waktu untuk melakukan reproduksi peta masa lalu dengan masa kini maka akan didapat perbedaan waktu yang signifikan prosesnya. Produksi peta yang sudah tersimpat dalam sistem komputer akan memungkinkan reproduksi dan manipulasi peta berjalan jauh lebih cepat dibandingkan dengan cara manual.
Sistem Informasi Geografis (SIG) atau GIS (Geographical Information System) inilah yang menjadi basis sistem dalam pengelolaan data geografis yang mencakup penyimpanan, pengolahan, manipulasi, dan pengeluaran dalam bentuk peta yang tersusun dalam sistem berbasis komputer. Saat ini teknologi GIS yang juga kerap disandingkan bersamaan dengan Remote Sensing, amat pesat perkembangannya antara lain karena sifatnya yang multi guna di berbagai bidang (multisiplin). GIS bisa menjamah bidang-bidang seperti militer, pertanian, kehutanan, kependudukan, perkebunan, arkeologi, kesehatan, dan masih banyak lagi bidang yang lain.