Jumat, 05 Desember 2014

perbedaan almasih dan nasrani

Assalamu alaikum guys,,,,
menurut dosen saya nih al masih dan nasrani itu berbeda, bedanya apa. ? yuk disimak



A.    ZAMAN AL MASIH
Nama Isa Al Masih diartikan kembali dalam terminologi orang Sufi sebagai ‘cinta kasih 
Sementara itu suatu hal yang benar-benar jelas, Isa Al Masih sendiri telah mendapatkan tempat di hati dan pikiran Nabi Muhammad, saw. Mengenai kedatangannya kembali Isa Al Masih ke dunia di akhir Zaman yang merupakan pokok pembicaraan di Zaman nya Nabi Muhammad, saw., (seperti halnya sekarang ini) kita menemukan bahwa Nabi Muhammad saw., sangat rindu untuk bertemu Isa Al Masih, sebagaimana Hadis menyatakan:
Harapanku bila diberikan panjang usia adalah ingin bertemu Isa Al Masih, tetapi bila kematian cepat menjemputku, tolong kepada orang yang bisa bertemu dengannya menyampaikan salamku
Nabi Muhammad, saw., bukan saja rindu bertemu Isa Al Masih, akan tetapi ia melihat bahwa persaudaraanya dengan Isa Al Masih harus mendapat tempat yang utama. Meskipun semua nabi-nabi bersaudara, Nabi Muhammad, saw., memilih Isa Al Masih sebagai saudara terdekat. Isa Al Masih merupakan nabi yang mendapatkan tempat yang sangat baik dalam hati dan pikiran Nabi Muhammad, saw. Baginya, persaudaraan dengan Isa Al Masih adalah merupakan keutamaan. Dalam Hadis ditulis:
Nabi-nabi sama satu saudara meskipun dari ibu yang berbeda dan agama mereka hanyalah satu. Dari semua umat akulah yang paling dekat dan pantas menjadi saudara dari Isa Al Masih, anaknya Maryam, karena tidak ada nabi di antara aku dan dia.
Dalam karangan berseri ini, para Sufi memandang Isa Al Masih sebagai suri-teladan dalam hal kesucian dan cinta kasih. Dan yang sangat dirindukan Nabi Muhammad, saw., adalah persaudaraannya yang perlu diutamakan.
Dalam seri ini juga kita akan menggali cerminan Isa Al Masih dari sudut pandang Hadis dan komentar Al-Qur’an serta tulisan-tulisan kaum Sufi.
Mufassirin yang lain menggambarkan kedatangannya kembali Isa Al Masih ke dunia merupakan tanda dan keadaan Zaman menjelang Kiamat; misalkan, Jalalayn menyebut ‘Ia memberikan pengetahuan kepadamu tentang terjadinya Kiamat. Kiamat ini dikenal lewat kedatangannya kembali.’ Zamakhshary dan Baidawi mengatakan, ‘Ia adalah tanda atau petunjuk terjadinya Kiamat, yakni, ia adalah penyebab atau syarat terjadinya itu.’
Dalam bagian pertama ini, dititikberatkan pada peran Isa Al Masih sebelum Hari Kiamat, kita akan banyak menyimak kembali keadaan dunia sebelum datangnya kembali Isa Al Masih ke dunia. Tetapi, bukan berarti menghitung waktu sampai datangnya Hari Kiamat, tetapi untuk mengetahui sampai di mana generasi Islam pertama menempatkan Isa Al Masih di dalam pikiran dan lubuk hati mereka.
Shahihnya atau autentiknya Hadis tidak harus kita bahas; cukuplah Hadis-hadis ini telah disyiarkan dan diakui oleh banyak orang yang percaya dan beriman kepadanya, di mana tersirat sangat berarti. Tetapi, untuk yang meragukan adanya si Dajjal dan peranan utama Isa Al Masih pada waktu Hari Kiamat, boleh kita kutip pernyataan seorang ilmuwan yang terkenal: Al-Qadi Abu Bakr Ibn Al’-Arabi (534h).
Hadis Muslim yang shahih dan hadis-hadis lainnya yang menyebutkan si Dajjal merupakan bukti bagi para pengikut kebenaran tentang adanya si Dajjal secara nyata di mana ia adalah orang yang oleh Allah diberi kuasa bisa membuat hamba-hambanya menderita atau sengsara. Allah akan membuat si Dajjal menampakkan beberapa kekuasaan yang bersifat Ilahi, seperti bisa membangkitkan kembali orang yang ia bunuh, bisa memakmurkan dan menyuburkan dunia ini, menampakkan Firdaus dan Neraka versi dia, dua sungai yang disertai kekayaan bumi di balik dia, bisa memerintah langit menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan benih-benih dengan suburnya....Inilah yang dipercayai oleh Muslimin ortodoks (’Ahl ’As-sunah wa'al Jamaah) dan semua penyi’ar Hadis dan ahli hukum Islam ahli fikih (fuqaha‘).
Atas kedatangan Isa Al Masih, ia juga mengatakan:
Kedatangan Isa Al Masih, saw., dan kemampuannya membunuh atau melenyapkan si Dajjal adalah benar dan ini ditegaskan secara resmi oleh kaum Sunnah dalam Hadis yang shahih. Tidak bisa diingkari kebenarannya baik secara logika maupun apa yang telah tersirat dalam firman atau kitab suci. Jadi, harus ditegakkan dan dijunjung tinggi.
 kesaksian ini kita akan melihat lebih dekat lagi pada apa yang mereka ungkapkan tentang kepercayaan kaum Muslimin pada awalnya tentang kedatangannya kembali Isa Al Masih ke dunia.
B.     ZAMAN NASRANI
Agama Nasrani ialah agama yang dikembangkan oleh Jesus dari Nazaret yang kita namai Nabi Isa. Kita juga sebut agama Kristen ialah agama Kristus. Menurut Encyclopedia Britannica maka Christ itu artinya Mahdi yang dimaksudkan oleh pujaan (prophecy)-nya Yahudi atau raja atas kemauan Tuhan. Menurut Der Chrosse Brockhauss, itu artinya penebus dosa manusia, penjelmaan Tuhan sendiri (die offenbarung Grottes). Susah sekali kalau tidak mustahil memberi definisinya agama Nasrani kalau tidak mesti dicari pada bermacam-macam mazhabnya (sects); buat Orthodox Kristen (kolot), tulisan dan lisan kitab Injil diambil bulat mentah begitu saja. Satu pusat atau kata saja disangsikan maka sarinya sama dengan menyangsikan seluruh kitab Injil dan seterusnya sama dengan menyangsikan esanya Tuhan. Jadi kata ayat dan pasal yang menyatakan bahwa Nabi Isa itu anaknya Tuhan, bisa menyembuhkan semua penyakit dan menghidupkan yang mati, bisa terbang dan berjalan di atas air, hidup kembali sesudah mati berjumpa dengan pengikutnya, semuanya ini buat Kristen Orthodox bukan kiasan melainkan bukti bulat mentah.
Jadi pemandangan yang memperhubungkan Nabi Isa dengan masyarakat Yahudi, memperhubungkan agamanya dan pahamnya Nabi Isa dengan agama dan ciptaan atau idaman Yahudi, pemandangan yang mengaku bisa adanya pengaruh pada dan perubahan dalam agama Kristen itu mesti ditolak mentah-mentah pula. Nabi Isa menurut mereka ialah anak Tuhan, yang dikirimkan-Nya ke dunia fana ini, sebagai janjinya pada Bani Israel, buat menebus dosa manusia. Sifat dan kodratnya Nabi Isa menurut paham ini tentulah sifat dan kodratnya Tuhan. Di sini kegaiban Isa dipulangkan pada ke-Tuhanan dan sebaliknya kegaiban Tuhan itulah yang dijelmakan oleh kegaiban Isa. Kristen semacam ini terdiri dari Kristen Timur (Rusia) dan Katolik Roma, pendeknya dari sebagian besar dari pengikut agama Nasrani akan bersoal jawab dengan Kristen semacam ini, yang juga besar pengaruhnya di Indonesia tentulah pengikut saudara kita di Toba Batak atau di Borneo Dayak ataupun di Papua yang mengikuti agama Nasrani itu. Juga pertama tiada mengutamakan akal logika, Dialektika atau bukti. Di tengah masyarakat Islam tuan Pendeta, walaupun dibelakangnya ada meriam dan tank dan di atas kepalanya ada payung pelindung ialah garuda “Imperialisme”, tiada bisa mengembangkan sayapnya atau kukunya. Lebih dari 1300 tahun Muhammad S.A.W sudah menyanggah ke-Tuhanan Isa; dengan begitu ia sanggah ke-Esaan Tuhan. Bertentangan dengan Kristen kolot pada masyarakat Borjuis Barat juga pada pihak kanan sekali kita dapati di zaman ini ahli filsafat Friederich Nietsche. Ahli filsafat ini bulat mentah tolak semua barang dan perkara yang berhubungan dengan Nabi Isa itu. Dianggap seperti satu kelemahan manusia, tetapi bisa menarik dan menjerumuskan. Di Barat Nietsche seperti anti Kristus. Kaum Nazi menganggap Kristus dan agamanya seperti ciptaan dan impian yudentum.
Materialis dan atheis walaupun timbul pada masyarakat Barat yang umumnya masyarakat Nasrani juga tentulah sudah di luar batas agama Kristen sama sekali. Hal ini tak perlu lagi diuraikan lebih panjang. Di antara Kristen-orthodox bulat mentah dengan Nietsche Nazi anti Kristus itu tentulah berlusin-lusin pula paham yang melayang. Tiadalah perlu diladeni satu persatu. Cukuplah kalau kita kemukakan, bahwa di sini berlaku juga undang perbedaan bilangan, akhirnya berubah menjadi perubahan sifat. Kita mulanya dengan begitu sampai ke tingkat dimana ia itu tidak, A = Non-A, akhirnya kita sampai ke tingkat pembatalan kebatalan.
Demikianlah perubahan teknik pada masyarakat Barat sedikit demi sedikit melalui tiga tingkat undang Dialektika itu, dari zaman Eropa sebelum Isa, sampai ke Feodalismenya zaman tengah (476-1492); dari zaman Feodalisme sampai ke zaman Kapitalisme. Zaman kapitalisme itu berlaku (dari abad 15-16 sampai sekarang di Eropa Barat, kecuali Rusia) perubahan teknik ekonomi pada masyarakat Barat mengubah susunan sosial politiknya, dan susunan kelas baru menimbulkan jiwa (psychology) menurut filsafat dan politik baru pula.
Filsafat dan politik baru dari kelas baru itu, yakni kelas borjuis sebelum Revolusi Perancis (1789) dan kelas proletar itu menentang, merombak dan membinasa cerai-beraikan paham Kristen dan politiknya pendeta dan agama Kristen (1789). Sesudah tahun 1789 kaum borjuis yang menang itu memakai Pendeta dan agama Kristen sebagai sayap kanan politiknya buat menolak semua tantangan proletar. Pertama agama jatuh ke tangan Katolik atau Protestan. Terutama Mazhab Katolik amat rapi organisasinya tentang agama. Tetapi perkara ekonomi, politik, dan sains (science) boleh dikatakan jatuh ke tangan Protestan.