Jumat, 05 Desember 2014

paham region dan pendekatan regional

wah pembahasan kali ini agak menarik, kali ini kita akan bahas mengenai paham region dan pendekatan regional. yuukkk baca.
semoga bermanfaat ya


PAHAM REGION DAN PENDEKATAN REGIONAL
A.  Paham  Region dan Perkembangan Geografi Regional
Rintisan kajian regional telah dimulai oleh Strabo pada masa geografi Yunani, kajian regional juga termuat dalam karvanVareniusbyang terbit pada pertengahan abad ke-17. Paham regional konsep regional secara formal baru dikembangkan kemudian oleh Alfred Hattner (1895-1942) di Jerman, Vidal de la Blache (1845-1918) di Prancis, dan lebih kemudian lagi oleh Richard Hartshorne di Amerika Serikat.
Di Jerman Alfred Hattner untuk pertama kalinya pada tahun 1905 dan kemudian secara lebih lengkap pada 1927 menegaskan kedudukan studi regional dalam geografi.
Pada Dunia I merupakan priode yang subur bagi persemaian regional. Pengalaman  orang menjadiakn para geografiwan lebih mendalam aspek-aspek dari pada mempelajari geomorfologi. 
1.    Konsep landschaft menurut Hattner
Menurut Hattner landschaft adalah bagian permukaan memberikan gambaran individualitas tersendiri dan meliputi keadaan alamnya beserta isinya yang terdiri atas tumbuhan, hewan, dan manusia yang menghuninya. Kemudian manjadi dasar bagi uraian daerah-daerah maka 1 dengan nama laderkunde yang dalam bahasa Belanda disebut seachjiving, dan dalam bahasa Inggris dinamakan regional geografi . Hattner masih mengikuti jejak Von Richthofen yang memandang tugas utama geografi ialah membuat pelukisan (deskripsi) tentang permukaan bumi.
Untuk memudahkan perbandingan tentang daerah satu dengan yang lain, Hattner menyarankan dipakainya suatu bagan terkenal sebagai bagan. Bagan Hettner meliputi unsure-unsur yang perlu dipelajari berturut-turut tentang:Letak, luas, perlikuan horizontal (bentuk wilayah), perlikuan vertical (relief), susunan geologi, geomorfologi, Keadaan agrogeografi, iklim, Gejala irigasi, vegetasi, hewan, manusia ( mengenai jumlah, penyebaran, cara menatap, kebudayaannya baik material maupun rohani).
Bagan tersebut memiliki keuntungan dan kekurangan untuk membuat uraian tentang suatu wilayah.
Keuntungannya meliputi antara lain:
1)    Telaah dapat dilakukan secara sistematis.
2)    Bagan uraian sistematis unsur demi unsur telaah mendalam  untuk flap unsur dapat dilakukan secara leluasa.
3)    Dengan membuat telaah berdasarkan unsur-unsur yang sama yang terdapat pada bagan pembandingan akan lebih mudah dilakukan untuk mengetahui keadaan kemiripan, perbedaan dan keunikan wilayah-wilayah di muka bumi.
Sedangkan kelemahannya antara lain:
1)    Uraian pembahasan (telaah) terkadang menjadi kaku.
2)    Dengan uraian sistematis mengikuti bagan tersebut uraian terpadu yang mudah member gambaran karakteristik atau keunikan wilayah sukar dicapai.
3)    Uraian sistematis dengan mengikuti system bagan yang demikian tampak sebagai telaah yang bersifat inventarisasi yang atomistis.
Kelemahan lain dalam pemakaian system bagan untuk uraian geografi regional, khususnya bagi geografi untuk sekolah, ialah terdapatnya kecenderungan membatasi pada satuan wilayah politik.

2.    Pandangan Regional menurut Vidal deBlache
Menurut Vidal sasaran utama geografi de vie’ yang karakteristiknya peradaban (siviisasai) atau kebudayaan mania (penduduk yang hutan) dan kedua oleh kemungkinan-kemungkinan lingkungan peta pengaruhnya atas aktivitas manusia-manusia dengan kebudayaan.
Faktor-faktor penting yang berpengaruh atas timbulnya keanekaragaman di samping keadaan alam meliputi juga fackor-faktor aksial dan sejarah, factor ekonomi, dan juga factor kerohanian atau kejiwaan.

3.    Pandanagan Regional Menurut Hartshorne
Paham regional di Amerika dikembangkan oleh Richard Hartshome. Pengembangan geografi regional di Amerika sedikit banyak agak terhambat oleh adanya bentuk-bentuk dualism dalam praktek geografi. Dualisme pertama menyangkut pengotakan terpisah antara geografi fisi dan geografi manusia. Dualisme ini tampaknya bertalian erat dengan tahapan sejarah perkembangan ilmu alami.
Bentuk dual dualism memisahkan geografi fisis dan geografi manusia ditelaah secara kesejarahan oleh Hartshorne, sedangkan kedudukannya dalam geografi mutakhir dianalisis oleh Edward A. Ackerman.


B.  Sudut Pandang dalam Geografi Regional
Mathieson mengemukakan lima tahapan sudut pandang yang telah tumbuh dan dipakai dalam geografi regional, yaitu:
1.    Sudut Pandang yang Bersifat Holistic atau Disebut  Juga Pandangan Kosmografis.
2.    Sudut Pandang yang Bersifat Environmentalis.
3.    Sudut Pandang Posibilis.
4.    Sudut Pandang Probabilis.
5.    Sudut Pandang Voluntaris.

C.  Pendekatan dan Pengorganisasian Kajian Geografi Regional
Biddle berpendapat bahwa pada dasarnya geografi yang diajarkan di sekolah menengah, terdiri atas geografi sistematis, geografi topik-topik, dan geografi regional. Pada tingkat sekolah dasar sekarang garafis lebih umum diberikan tidak sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, melainkan dalam pelajaran atau bidang studi ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan alam.
1.    Kajian Regional Berdasarkan 10 Unsur Geostrategi Menurut Cressey.
Cressey membagi Asia dalam enam kawasan besar (realm) atau subkawasan benua yaitu: Cina, Jepang dan Korea, Uni Sofiet, Asia Barat Daya, India dan Pakistan, dan Asia Tenggara.
Dalam langkah-langkah pembahasan, setiap Kawasan besaran begbagi atas beberapa kawasan pada hierarki di bawahnya yang diberi sebutan provinsi (province). Sedangkan setiap provinsi, terdiri atas sejumlah kawasan geografis (geographic region).
Kawasan besar Cina, Jepang, Korea terbagi atas lima provinsi: Cina Utara, Cina Selatan, Cina Laurant (Outer China: Mongolia, Sinkiang, Tibet), Jepang, Korea. Sedangkan provinsi Cina Utara meliputi kawasan-kawasan geografis Dataran S. Kuning, Semenanjung Shantung, Daerah Tanah Los, Dataran Mancuria, Tanah Tinggi Mancuria Timur, Pegunungan Khingan, Pegunungan Jehal.
Meskipun Cina. Jepang, Korea dipandang sebagai satu kesatuan kawasan besar, dalam pembahasan Cina disejajarkan dengan Jepang dan Korea, yang mulai dengan uraian telaah sistematik. Uraian sistematik Cina meliputi:
a.    Prospek penduduk Cina (warisan budaya, latar belakang kesejarahan, kesatuan politik, masalah penduduk, kebangkitan nasionalisme, potensi ekonomi, perdangan luar negeri dan geostrategi).
b.    Dasar-dasar keadaan alam Cina (dasar-dasar keadaan geologi, pola sungai, morfologi, iklim, vegetasi alami, tanah, sumber feral, prakiraan geografis).
c.    Pertanian di Cina (lahan pertanian dan kaum tani, tataguna lahan di Cina kawasan-kawasan pertanian).
d.    Uraian regional kawasan-kawasan di Cina Utara, Cina Selatan, dan pendalaman Asia (Cina Lauran).
Sedang uraian sistematik mengenai Jepang dan Korea meliputi:
a.    Peninggalan geografis Jepang (lokasi, kerangka geografis, penduduk, ekspansi lewat darat dan laut, landskap budaya Jepang, wawasan orang Jepang tentang kehidupan).
b.    Dasar-dasar keadaan alam Jepang (bentuk lahan, iklim, hutan, pedalaman tanah dan sumber mineral).
c.    Mata pencaharian di Jepang (pertanian, perikanan, industry, tunikasi, perdagangan luar negeri).
d.    Uraian regional kawasan-kawasan di Jepang dan Korea.

Pendekatan lain yang dilakukan Cressey ialah dengan sepuluh unsur geografis yang dipandang sangat penting, baik untuk keperluan masa perang maupun dalam rangka upaya teraan pada masa damai.
Karena itu kesepuluh unsur itu dapat juga sebagai unsur-unsur geogrategi, yang meliputi: ukuran, bentuk, keterjangkauan, lokasi, perbatasan, hubungan dengan laut, topografi, mineral, iklim, penduduk.
2.    Kajian Regional Berdasar Tujuh Topik Kunci Menurut Wheeler Kostbade dan Thomas.
Wheleer, Kostbade dan Thotnan memandang bahwa karakteristik, keunikan atau corak individualitas kawasan yang menjadi sasaran kajian geografi regional merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang meliputi keadaan lingkungan alam, penduduk, budaya, dan sejarahnya. Untuk memahami karakteristik kawasan perlu dikaji secara rinci tujuh topik kunci yang meliputi: Lokasi, penduduk, status politik atau sejarahnya, lingkungan alami, tipe ekonomi, potensi-potensi, permasalahan Utama.
D.  Pengertian dan Kedudukan Geografi Regional
1.    Teori dan Prosedur Dalam Mempelajari Region.
Region merupakan batasannya sendiri maupun berdasar sifat konsepsi intelektual, suatu satuan (entity) untuk pengarahan pemikiran, terwujud dengan menyeleksi ciri-ciri tertentu yang relevan terhadap suatu minat atau masalah kedaerahan, dan dengan mengensampingkan ciri-ciri yang tidak relevan. Tujuan pertama studi regional ialah untuk mendeskripsikan corak atau karakteristik daerah-daerah tertentu.
Pernyataaan umum mengenai ciri-ciri region tidak dikemukakan para geografiwan. Maka untuk mengatasi kekurangan mengenai hal yang demikian itu James dan Jones mencoba mengemukakan pertimbangan esensial mengenai ciri atau atribut regiaon, yang meliputi:
a.    Kriteria.
Merupakan syarat dasar untuk penentuan region.
b.    Kategori.
Menggambarkan golongan berdasar corak dasar mengingat sifat-sifat umum ataupun criteria yang dipakai.
c.    Karakteristik.
Karakteristik berlaku baik bagi uniform region maupun nodal region.
Untuk uniform region perlu diperhatikan dua sifat karakteristiknya, seperti di bawah ini:
1)    Uniform region adalah homogeny, karena setiap bagian daerahnya mengandung sifat (sifat-sifat) yang dipakai sebagai dasar pembatasannya.
2)    Uniform region  mengandung variasi tertentu dalam hal intensitas atau sifat yang dibolehkan menurut kriteria.
Bagi ‘nodal region’ perlu diperhatikan empat hal, di samping karakteristik yang berlaku bagi region pada umumnya, yaitu meliputi sebagai berikut:
1)    Nodal region adalah homogeny karena seluruh daerahnya bersesuaian dengan suatu desain integral dalam hal sirkulasi internal.
2)    Nodal region mengandung satu pusat (fokus) ada kalanya beberapa buah yang bertugas sebagai titik pusat organisasi.
3)    Nodal region menyangkut suatu pola sirkulasi.
4)    Fokus ‘nodal region’ dihubungkan dengan bagian-bagian daerahnya oleh ikatan-ikatan dengn intensitas dan sifat yang berbeda.        
d.    Inti dan perbatasan.
Pengertian region sendiri menurut Komisi di Amerika yang dipimpin Derwent Whittlesay mengandung pengertian:

1)    Suatu daerah dengan ukuran tertentu (bias besar bias kecil).
2)    Daerah bersifat homogeny berdasar criteria tertentu.
3)    Dapat dibedakan dari daearh sekitarnya oleh adanya suatu jenis ikatan khusus secara kedaerahan (ada internal cohesion).
Peta sangat esensial bagi studi geografi, karena:
1)    Memungkinkan penggambaran secara ringkas tantang region.
2)    Di lapangan peta membantu memungkinkan cara yang tepat dalam melakukan pengamatan.
3)    Peta untuk memudahkan analisis dan pembandingan.
Jika daerah-daerah digambarkan pada peta untuk dianalisis geografi mungkin perlu di bedakan 3 macam perbedaan (diferensiasi), yaitu:
1)    Perbedaan menurut derajat.
Perbedaan menurut derajat muncul kalau suatu fenomena meluas terus-menerus (kontinu) tanpa putus, dan hanya bervariasi dalam hal kapasitasnya
2)    Perbedaan menurut pencacahan.
Perbedaan cacah timbul kalau menyangkut pola titik-titik yang penggambarannya pada peta dengan skala  diperkecil tak dapat menunjukkan tiap individu dengan simbolnya masing-masing.
3)    Perbedaan menurut jenis.
Perbedaan dalam hal jenis timbul kalau suatu fenomena terdapat secara berbeda pada daerah yang berlainan yang masing-masing ditandai dengan perbedaan kualitas atau coraknya.
e.    Compage. 
Merupakan istilah lama (abad 16-17) yang sekarang jarang dipakai , dan berasal dari kata com (= bersama)  dan pag atau pangere (= mengikat). Jadi, berarti struktur atau pun susunan yang kompleks dan kuat. Compage juga ditandai dengan lokasi yang unik, meliputi suatu gabungan unsur-unsur, secara terbatas tak mempunyai daerah bandingan.
Ada empat tingkatan hierarki ‘compage’ yang masing-masing perlu memenuhi syarat-syarat:
1)    Perlu menggambarkan secara jelas perbedaan tingkatan yang lain.
2)    Ada penamaan atau sebutan  (istilahnya) sendiri, tidak semua dengan sebutan nama yaitu region.
3)    Hendaknya masing-masing dapat dipetakan dengan skala yang berbeda.
Penggolongan ‘compage’ atas empat tingkatan hierarki dengan sebutan berbeda meliputi:
1)    Locality.
Merupakan tingkatan paling rendah dan meliputi lingkungan sehari-hari dengan suatu realitas dan arti maksimum bagi penduduknya. Skala peta untuk studi ‘locality’ dapat berkisar antara 1:10.000 hingga 1:50.000.
2)    District.
Beberapa ‘localities’ dapat digabungkan hingga menjadi suatu wilayah lebih besar yang dapat dengan medah dibedakan dari yang lain dan merupakan satuan yang disebut ‘district’. Skala peta yang dipakai untuk pembahasan ‘district’ dapat berkisar dari 1:50.000 sampai 1:250.000.
3)    Province.
Province seringkali bertepatan dengan ‘geomorphic regions’, seperti misalnya: Daerah Pegunungan Kapur Selatan, daerah Pantai Utara Jawa. Skala dari 1:100.000 hingga 1:5.000.000.
4)    Realm.
 Realm’ dapat didasarkan atas pola kegiatan manusia dengan drajat generalisasi yang cukup besar dan penelaahan yang mendetil sering perlu ditiadakan. ‘Realm’ dapat merupakan suatu bagian benua, anak benua, atau sekumpulan kawasan kepulauan dan Semenanjung seperti: Asia Tenggara, India Pakistan-Bangladesh, Eropa Barat Laut, dan sebagainya. Skala yang dipakai melebihi 1:5.000.000.

f.     Kesadaran regional.
Regionalisme merupakan sesuatu yang menggambarkan tidak saja suatu suasana perasaan, pandangan atau pikiran dan menunjukkan atau menyangkut:
1)    Kerangka bagi keperluan pengumpulan informasi tentang wilayah.
2)    Suatu hipotesis untuk mempelajari inteirelasi antarwilayah.
3)    Suatu alat atau sarana untuk keperluan administrasi perencanaan.
2.    Kedudukan Geografi Regional Dalam Ilmu dan Pengajaran Sekolah.
a.    Kedudukan Geografi Regional Sebagai Ilmu.
Hattner (di Jerman), Vidal (di Prancis), dan Hartshorne (di Amerika) merupakan tokoh-tokoh geografi yang telah menempatkan geografi regional sebagai ilmu yang mempelajari keanekaragaman yang unik daerah-daerah di muka bumi.
Geografi sebagai ilmu menurut Hartshorne, perlu menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1)    Dasar pengamatan empiric yang sebebas (seobjektif) mungkin, melukiskan fenomena dengan derajat kesaksamaan dan kemantapan yang maksimum.
2)    Atas dasar hal yang demikian, fenomena diklasifikasikan dalam artian konsep-konsep yang umum (universal), sejauh realita mungkin.
3)    Melalui pertimbangan rasional tentang fakta-fakta yang dicapai melalui analisis dan sintesis logik, termasuk juga penggunaaan dan penyuluhan (sejauh mungkin) prinsip-prinsip umum atau hukum tentang interrelasi, mencapai pemahaman ilmiah maksimum tentang interrrelasi fenomena.
4)    Menyajikan hasil penemuan dalam susunan atau system yang beraturan sehingga apa yang diketahui membawa orang sampai pada batas ketidaktahuan.
b.    Geografi Regional Dalam Pengajaran sekolah.
Sejak tahun 1972 para geografiwan dan ahli pendidikan geografi sepakat agar geografi yang diajarkan disekolah bukan geografi yang terkotak dalam geografi fisis dan geografi manusia, melainkan geografi terpaduyang membahas Hubungan kehidupan dengan lingkungan alamnya.
Seminar pengajaran geografi 1972 sepakat menyatakan bahwa un tuk keperluan pengajaran sekolah, objek studi geografi ialah permukaan bumi sebagai suatu kebulatan. Hakikat sasaran geografi meliputi:
1)    Kebulatan Hubungan manusia dan lingkungan.
2)    Wilayah (region) sebagai hasil interaksi, asosiasi, integrasi dan diferensiasi unsure-unsur alamiah dan manusiawi dalam ruang tertentu di permukaan bumi.
Dalam kenyataan kurikulum yang berlaku, sejak 1975 materi pengajaran geografi justru terpecah (terpisah), sebagian diajarkan dalam bidang studi ilmu pengetahuan sosial (IPS) dan sebagian lagi dalam bidang studi ilmu pengetahuan alam.
Hal ini tercermin dari adanya kenyataan-kenyataan sebagai berikit:
1)    Para siswa berpikir dalam arti kawasan Negara atau ‘political regions’.
2)    Kesadaran siswa akan pengertian region menurut geografiwan.
3)    Para siswa acuh tak acuk mengenai kenampakan-kenampakan nyata tempat-tempat yang telah menjadi objek studinya.