Jumat, 05 Desember 2014

pengambilan keputusan

Assalamu alaikum guys...
kali ini kita akan bahas mengenai mata kuliah administrasi dan managemen khususnya sub bab pengambilan keputusan. yuk di simakkk


 PENGAMBILAN KEPUTUSAN
A.   KONSEPSI DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1.     Pengertian
Berikut ini adalah pengertian pengambilan putusan dari beberapa ahli yang telah diterjemahkan:
a)     G.R. Terry berpendapat bahwa pengambilan keputusan adalah pemilihan alternative kelakuan tertentu dari dua atau lebih alternative yang ada.
b)    Harold Koonzt dan Cyril O`Donnel berpendapat bahwa, pengambilan keputusan adalah pemilihan diantara alternative-alternatif mengenai suatu cara bertindak.
c)     Theo Haiman berpendapat bahwa inti dari semua adalah pengambilan putusan, suatu pemilihan cara bertindak. Dalam hal ini kita melihat suatu putusan sebagai suatu cara bertindak yang dipilih oleh manajer sebagai suatu yang paling efektiv berarti penempatan untuk mencapai sasaran dan pemecahan masalah
d)    Drs. H. Malayu S.p. Hadibuah berpendapat bahwa pengambilan keputusan adalah suatu proses penentuan keputusan yang terbaik dari sejumlah alternative untuk melakukan aktifitas pada masa-masa yang akan dating.
e)     Chester I Barnard berpendapat bahwa, keputusan adalah perilaku organisasi berintisari perilaku perorangan dan dalam gambaran proses keputusan ini secara relative dapat dikatakan bahwa pengertian tingkah laku organisasi lebih penting daripada kepentingan perorangan.

Dari pengertian itu dapat kita simpulkan bahwa, pengambilan keputusan adalah proses bagaimana menetapkan suatu keputusan terbaik, logis, rasional dan ideal berdasarkan data, fakta dan informasi dari sejumlah alternative untuk mencapai sarana-sarana yang telah ditetapkan dengan resiko kecil, efektif dan efisien untuk dilaksanakan pada masa yang akan datang.

2.     Tingkatan-tingkatan keputusan
Menurut Brinckloe ada empat tingkatan keputusan dari pembuatan putusan, tiap putusan akan tergolong dalam salah satu dari kategori itu, yaitu:
a.     Keputusan Otomatis (automatic decisions). Keputusan ini dibuat dengan sangat sederhana. Meski ia sederhana, informasi tetap diperlukan. Hanya informasi yang ada itu sekaligus melahirkan satu putusan.
b.     Keputusan  berdasar informasi yang diharapkan (expected information decisions). Tingkat informasi disini mulai sedikit kompleks artinya  informasi yang ada  sesudah memberi aba-aba untuk pembuatan putusan. Akan tetapi, putusan  belum segera dibuat, karena informasi itu masih perlu dipelajari.
c.      Keputusan berdasar berbagai pertimbangan (factor weighting decisions). Keputusan jenis ini lebih kompleks lagi. Lebih banyak informasi yang diperlukan. Informasi-informasi itu harus dikumpulkan dan dianalisis. Faktor–faktor yang berperan dalam informasi itu dipertimbangkan dan diperhitungkan.
d.     Keputusan ketidakpastian ganda (dual uncertainty decisions). Keputusan tingkat empat ini merupakan proses pembuatan putusan yang paling kompleks. Jumlah informasi yang diperlukan semakin bertambah banyak.

3.     Berbagai kekuatan yang mempengaruhi pengambilan keputusan
Menurut Siagian (`1985) dan Effendy (1989), ada tiga kekuatan yang selalu mempengaruhi pembuatan putusan, yaitu:
a.     Dinamika Individu. Organisasi merupakan wadah individu, yang masing-masing membawa sikapnya, perangainya dan waktunya sendiri. Setiap individu itu tidak statis, melainkan dinamis, sesuai dengan sifat alamiah manusia, lebih-lebih kalau manusia itu bergabung dalam suatu wadah yang bernama organisasi.
b.     Dinamika kelompok. Kelompok adalah sejumlah individu yang saling berinteraksi secara teratur untuk mencapai tujuan tertentu. Berdasarkan pengertian ini, dalam kelompok yang dinamis terdapat sejumlah individu yang saling berinteraksi
c.      Dinamika lingkungan. Lingkungan adalah situasi, kondisi dan faktor yang mengelilingi dan mempengaruhi sesuatu putusan. Suatu putusan yang dibuat merupakan jawaban terhadap suatu tantangan. Apa bila putusan sudah dibuat, maka akan mengubah situasi dan kondisi serta berbagai faktor yang bersangkutan. Sejauh mana pengubahan situasi dan kondisi tersebut, tergantung pada derajat putusan yang dibuat. Organisasi bisa berbentuk pemerintahan, perusahaan, lembaga, badan dan lain-lain.

4.     Macam-macam pengambilan keputusan
Jika dikaji dari proses pengambilan keputusannya maka ada dua jenis keputusan, yaitu:
a)     Keputusan Auto Generated yaitu keputusan yang diambil secara cepat dimana keputudan ini kurang memperhatikan, mempertimbangkan data, fakta, informasi dan lapangan keputusan. Keputusan ini biasanya diambil pada saat gawat, misalnya sekompi tentara sedang di kepung musuh maka secepatnya pimpinannya harus mengambil keputusan.
b)    Keputusan Induced yaitu keputusan yang diambil berdasarkan manajemen ilmiah, sehingga keputusannya logis, ideal, rasional untuk dilaksanakan dan resikonya relative kecil, hanya saja proses pengambilan keputusannya sangat lambat.



B.   PERILAKU PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1.     Proses pengambilan keputusan
Menurut A. Simon ada tiga model yang dapat bermanfaat sebagai dasar proses pengambilan keputusan, diantaranya:
a)     Penelitian, yaitu mempelajari lingkungan atas kondisi yang memerlukan keputusan
b)    Desain yaitu mendaftar, mengembangkan dan menganalisis arah tindakan yang mungkin terjadi.
c)     Pemilihan yaitu menetapkan arah tindakan tertentu dari keseluruhan yang ada.
Sedangkan menurut James L. Gibson proses pengambilan keputusan terdiri atas:
a)     Penetapan tujuan spesifik serta pengukuran hasilnya.
b)    Identivikasi permasalahan
c)     Pengembangan alternative
d)    Evaluasi alternatife.
e)     Seleksi alternative
f)      Implementasi keputusan.
g)     Pengendalian dan evaluasi

2.     Dasar dan gaya pengambilan keputusan         
a.     Dasar pengambilan keputusan
Menurut masya dkk (1978) dan Hasibuan (1990)  menyebutkan 5 dasar pengambilan keputusan, diantaranya:
a)     Intuisi. 
Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi adalah pengambilan keputusan  yang berdasarkan perasaan yang sifatnya subyektif.  Dalam pengambilan keputusan berdasarkan intusi ini, meski waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif pendek, tetapi keputusan yang dihasilkan seringkali relatif  kurang baik karena seringkali mengabaikan dasar-dasar pertimbangan lainnya.
Keuntungannya:
1.     Pembuatan putusan dapat dibuat dengan cepat
2.     Dipergunakanya kemampuan membuat keputusan
3.     Cara yang memuaskan atas masalah yang terlampau penting.


b)    Pengalaman.
Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena dengan pengalaman yang dimiliki seseorang, maka dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat memperhitungkan untung-ruginya dan baik-buruknya keputusan yang akan dihasilkan.
c)     Wewenang.
Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya, atau oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya.
Pembuatan keputusan atas dasar wewenang di pengaruhi oleh:
1.     Undang-undang, 2) peraturan-peraturan, 3) hak milik, 4) status
d)    Research
Yaitu pembuatan utusan yang berdasarkan hasil suatu penelitian yang dilakukan secara ilmiah terhadap suaatu objek yang erat hubungannya dengan masalah yang sedang dihadapi.
e)     Standard
Yaitu pembuatan putusan yang berdasarkan pada suatu standar sebagai ukuran yang telah ditetapkan.

b.    Gaya pengambilan keputusan
Secara umum gaya pengambilan keputusan terdiri atas:
1)    Menajer mengambil keputusan sendiri dengan menggunakan masukan informasi yang tersedia pada waktu tertentu.
2)    Manajer memperoleh informasi dari para bawahan dan kemudian menetapkan keputusan yang dipandang relevan.
3)    Manajer membicarakan permasalahan yang dihadapi organisasi dengan para bawahan secara individual dan mendapatkan gagasan dan saran-saran tanpa melibatkan bawahan sebagai suatu kelompok.
4)    Manajer membicarakan situasi keperluan dengan para bawahan sebagai suatu kelompok, dan mengumpulkan saran dan pendapat para bawahan dalam suatu konferensi atau pertemuan kelompok.
5)    Manajer membicarakan situasi kelompok kepada bawahan sebagai suatu kelompok dan kelompok menyusun serta menilai alternative.

C.   BEBERAPA PERTIMBANGAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Menurutt davis kerangka kerja dalam pengambilan keputusan  meliputi beberapa hal, diantaranya:
1)    System pengambilan putusan
2)    Pengetahuan mengenai keluaran
3)    Tanggapan keputusan
4)    Deskripsi mengenai pengambilan keputusan
5)    Kriteria untuk pengambilan keputusan
6)    Relevansi konsep keputusan terhadap desain system informasi manajemen

Selain itu pembuatan putusan harus dipertimbangkan matang secara obyektif mengenai hal-hal antara lain:
a.     Manfaat. Dalam pembuatan putusan telah dipikirkan apa yang menjadi manfaat putusan tersebut. Dipertimbangkan mengenai untung ruginya sebelum menjadi putusan.
b.     Pelaksanaan. Tidak ada artinya suatu pembuatan putusan yang tidak dapat dilaksanakan atau dilaksanakan tapi penuh risiko.
c.       Orang-orang. Dalam pembuatan putusan perlu dipertimbangkan orang yang akan merasakan akibat pembuatan putusan tersebut.
d.     Sarana atau media. Tidak semua pembuatan putusan secara individu oleh seorang diri. Terlebih lagi kalau pembuatan putusan itu menyangkut kepentingan bersama (organisasi).

D.   PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG RASIONAL
Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasio, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan dan konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. Pengambilan keputusan secara rasional ini berlaku sepenuhnya dalam keadaan yang ideal. Pada pengambilan keputusan secara rasional terdapat beberapa hal sebagai berikut:
1)    Kejelasan masalah: tidak ada keraguan dan kekaburan masalah.
2)    Orientasi tujuan: kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai.
3)    Pengetahuan alternatif: seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya.
4)    Preferensi yang jelas: alternatif bisa diurutkan sesuai kriteria.
5)    Hasil maksimal: pemilihan alternatif terbaik berdasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal.

E.         SARANA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1)    Rapat (meeting)
Dalam organisasi, rapat bisa bertaraf rapat manajer/direksi (board meeting) atau rapat pegawai (committees meetings of workmen). Rapat mana yang akan diselenggarakan tergantung pada besar kecilnya masalah yang akan dipecahkan. Sudah tentu masalah yang di bawa ke rapat manajer adalah masalah yang sifatnya manajerial yang menyangkut kebijaksanaan manajer.
2)    Sumban Saran (brainstorming
Curah saran atau brainstorming adalah suatu cara untuk mendapat-kan banyak gagasan dari sekelompok orang dalam waktu yang sangat singkat. Golberg & Larso dalam Effendy (ibid) mengemukakan  curah saran merupakan tata cara untuk menggalakkan atau mengu-rangi faktor-faktor yang merintangi pengekspresian gagasan-gagasan yang baru dan kreatif.
3)    Teknik Delphi (Delphi Technique)
      Teknik Delphi (Delphi technique) adalah teknik Pengambilan putusan dengan peran serta anggota kelompok, tidak dalam bentuk tatap muka, tetapi dalam memperoleh ide masukan dengan menggunakan kuesio-ner, ide tertulis. Teknik Delphi sering kali dipakai pada tingkat manajemen puncak yang biasanya tidak mempunyai cukup waktu untuk bertemu satu dengan yang lain.

















F.    KESIMPULAN
Pengambilan keputusan adalah proses bagaimana menetapkan suatu keputusan terbaik, logis, rasional dan ideal berdasarkan data, fakta dan informasi dari sejumlah alternative untuk mencapai sarana-sarana yang telah ditetapkan dengan resiko kecil, efektif dan efisien untuk dilaksanakan pada masa yang akan datang.
Menurut Siagian (`1985) dan Effendy (1989), ada tiga kekuatan yang selalu mempengaruhi pembuatan putusan, yaitu: Dinamika Individu, dinamika kelompok , dinamika lingkungan.
Menurut A. Simon ada tiga model yang dapat bermanfaat sebagai dasar proses pengambilan keputusan, diantaranya:
a.     Penelitian, yaitu mempelajari lingkungan atas kondisi yang memerlukan keputusan
b.     Desain yaitu mendaftar, mengembangkan dan menganalisis arah tindakan yang mungkin terjadi.
c.      Pemilihan yaitu menetapkan arah tindakan tertentu dari keseluruhan yang ada.
Dasar pengambilan keputusan diantaranya:Intuisi, pengalaman,wewenang, research, standard.
Pembuatan putusan harus dipertimbangkan matang secara obyektif mengenai hal-hal antara lain:
a.     Manfaat. Dalam pembuatan putusan telah dipikirkan apa yang menjadi manfaat putusan tersebut. Dipertimbangkan mengenai untung ruginya sebelum menjadi putusan.
b.     Pelaksanaan. Tidak ada artinya suatu pembuatan putusan yang tidak dapat dilaksanakan atau dilaksanakan tapi penuh risiko.
c.       Orang-orang. Dalam pembuatan putusan perlu dipertimbangkan orang yang akan merasakan akibat pembuatan putusan tersebut.
d.     Sarana atau media. Tidak semua pembuatan putusan secara individu oleh seorang diri.
Sarana pengambilan keputusan yaitu diantaranya: Rapat (meeting), Sumban Saran (brainstorming, dan Teknik Delphi (Delphi Technique).
       

paham region dan pendekatan regional

wah pembahasan kali ini agak menarik, kali ini kita akan bahas mengenai paham region dan pendekatan regional. yuukkk baca.
semoga bermanfaat ya


PAHAM REGION DAN PENDEKATAN REGIONAL
A.  Paham  Region dan Perkembangan Geografi Regional
Rintisan kajian regional telah dimulai oleh Strabo pada masa geografi Yunani, kajian regional juga termuat dalam karvanVareniusbyang terbit pada pertengahan abad ke-17. Paham regional konsep regional secara formal baru dikembangkan kemudian oleh Alfred Hattner (1895-1942) di Jerman, Vidal de la Blache (1845-1918) di Prancis, dan lebih kemudian lagi oleh Richard Hartshorne di Amerika Serikat.
Di Jerman Alfred Hattner untuk pertama kalinya pada tahun 1905 dan kemudian secara lebih lengkap pada 1927 menegaskan kedudukan studi regional dalam geografi.
Pada Dunia I merupakan priode yang subur bagi persemaian regional. Pengalaman  orang menjadiakn para geografiwan lebih mendalam aspek-aspek dari pada mempelajari geomorfologi. 
1.    Konsep landschaft menurut Hattner
Menurut Hattner landschaft adalah bagian permukaan memberikan gambaran individualitas tersendiri dan meliputi keadaan alamnya beserta isinya yang terdiri atas tumbuhan, hewan, dan manusia yang menghuninya. Kemudian manjadi dasar bagi uraian daerah-daerah maka 1 dengan nama laderkunde yang dalam bahasa Belanda disebut seachjiving, dan dalam bahasa Inggris dinamakan regional geografi . Hattner masih mengikuti jejak Von Richthofen yang memandang tugas utama geografi ialah membuat pelukisan (deskripsi) tentang permukaan bumi.
Untuk memudahkan perbandingan tentang daerah satu dengan yang lain, Hattner menyarankan dipakainya suatu bagan terkenal sebagai bagan. Bagan Hettner meliputi unsure-unsur yang perlu dipelajari berturut-turut tentang:Letak, luas, perlikuan horizontal (bentuk wilayah), perlikuan vertical (relief), susunan geologi, geomorfologi, Keadaan agrogeografi, iklim, Gejala irigasi, vegetasi, hewan, manusia ( mengenai jumlah, penyebaran, cara menatap, kebudayaannya baik material maupun rohani).
Bagan tersebut memiliki keuntungan dan kekurangan untuk membuat uraian tentang suatu wilayah.
Keuntungannya meliputi antara lain:
1)    Telaah dapat dilakukan secara sistematis.
2)    Bagan uraian sistematis unsur demi unsur telaah mendalam  untuk flap unsur dapat dilakukan secara leluasa.
3)    Dengan membuat telaah berdasarkan unsur-unsur yang sama yang terdapat pada bagan pembandingan akan lebih mudah dilakukan untuk mengetahui keadaan kemiripan, perbedaan dan keunikan wilayah-wilayah di muka bumi.
Sedangkan kelemahannya antara lain:
1)    Uraian pembahasan (telaah) terkadang menjadi kaku.
2)    Dengan uraian sistematis mengikuti bagan tersebut uraian terpadu yang mudah member gambaran karakteristik atau keunikan wilayah sukar dicapai.
3)    Uraian sistematis dengan mengikuti system bagan yang demikian tampak sebagai telaah yang bersifat inventarisasi yang atomistis.
Kelemahan lain dalam pemakaian system bagan untuk uraian geografi regional, khususnya bagi geografi untuk sekolah, ialah terdapatnya kecenderungan membatasi pada satuan wilayah politik.

2.    Pandangan Regional menurut Vidal deBlache
Menurut Vidal sasaran utama geografi de vie’ yang karakteristiknya peradaban (siviisasai) atau kebudayaan mania (penduduk yang hutan) dan kedua oleh kemungkinan-kemungkinan lingkungan peta pengaruhnya atas aktivitas manusia-manusia dengan kebudayaan.
Faktor-faktor penting yang berpengaruh atas timbulnya keanekaragaman di samping keadaan alam meliputi juga fackor-faktor aksial dan sejarah, factor ekonomi, dan juga factor kerohanian atau kejiwaan.

3.    Pandanagan Regional Menurut Hartshorne
Paham regional di Amerika dikembangkan oleh Richard Hartshome. Pengembangan geografi regional di Amerika sedikit banyak agak terhambat oleh adanya bentuk-bentuk dualism dalam praktek geografi. Dualisme pertama menyangkut pengotakan terpisah antara geografi fisi dan geografi manusia. Dualisme ini tampaknya bertalian erat dengan tahapan sejarah perkembangan ilmu alami.
Bentuk dual dualism memisahkan geografi fisis dan geografi manusia ditelaah secara kesejarahan oleh Hartshorne, sedangkan kedudukannya dalam geografi mutakhir dianalisis oleh Edward A. Ackerman.


B.  Sudut Pandang dalam Geografi Regional
Mathieson mengemukakan lima tahapan sudut pandang yang telah tumbuh dan dipakai dalam geografi regional, yaitu:
1.    Sudut Pandang yang Bersifat Holistic atau Disebut  Juga Pandangan Kosmografis.
2.    Sudut Pandang yang Bersifat Environmentalis.
3.    Sudut Pandang Posibilis.
4.    Sudut Pandang Probabilis.
5.    Sudut Pandang Voluntaris.

C.  Pendekatan dan Pengorganisasian Kajian Geografi Regional
Biddle berpendapat bahwa pada dasarnya geografi yang diajarkan di sekolah menengah, terdiri atas geografi sistematis, geografi topik-topik, dan geografi regional. Pada tingkat sekolah dasar sekarang garafis lebih umum diberikan tidak sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, melainkan dalam pelajaran atau bidang studi ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan alam.
1.    Kajian Regional Berdasarkan 10 Unsur Geostrategi Menurut Cressey.
Cressey membagi Asia dalam enam kawasan besar (realm) atau subkawasan benua yaitu: Cina, Jepang dan Korea, Uni Sofiet, Asia Barat Daya, India dan Pakistan, dan Asia Tenggara.
Dalam langkah-langkah pembahasan, setiap Kawasan besaran begbagi atas beberapa kawasan pada hierarki di bawahnya yang diberi sebutan provinsi (province). Sedangkan setiap provinsi, terdiri atas sejumlah kawasan geografis (geographic region).
Kawasan besar Cina, Jepang, Korea terbagi atas lima provinsi: Cina Utara, Cina Selatan, Cina Laurant (Outer China: Mongolia, Sinkiang, Tibet), Jepang, Korea. Sedangkan provinsi Cina Utara meliputi kawasan-kawasan geografis Dataran S. Kuning, Semenanjung Shantung, Daerah Tanah Los, Dataran Mancuria, Tanah Tinggi Mancuria Timur, Pegunungan Khingan, Pegunungan Jehal.
Meskipun Cina. Jepang, Korea dipandang sebagai satu kesatuan kawasan besar, dalam pembahasan Cina disejajarkan dengan Jepang dan Korea, yang mulai dengan uraian telaah sistematik. Uraian sistematik Cina meliputi:
a.    Prospek penduduk Cina (warisan budaya, latar belakang kesejarahan, kesatuan politik, masalah penduduk, kebangkitan nasionalisme, potensi ekonomi, perdangan luar negeri dan geostrategi).
b.    Dasar-dasar keadaan alam Cina (dasar-dasar keadaan geologi, pola sungai, morfologi, iklim, vegetasi alami, tanah, sumber feral, prakiraan geografis).
c.    Pertanian di Cina (lahan pertanian dan kaum tani, tataguna lahan di Cina kawasan-kawasan pertanian).
d.    Uraian regional kawasan-kawasan di Cina Utara, Cina Selatan, dan pendalaman Asia (Cina Lauran).
Sedang uraian sistematik mengenai Jepang dan Korea meliputi:
a.    Peninggalan geografis Jepang (lokasi, kerangka geografis, penduduk, ekspansi lewat darat dan laut, landskap budaya Jepang, wawasan orang Jepang tentang kehidupan).
b.    Dasar-dasar keadaan alam Jepang (bentuk lahan, iklim, hutan, pedalaman tanah dan sumber mineral).
c.    Mata pencaharian di Jepang (pertanian, perikanan, industry, tunikasi, perdagangan luar negeri).
d.    Uraian regional kawasan-kawasan di Jepang dan Korea.

Pendekatan lain yang dilakukan Cressey ialah dengan sepuluh unsur geografis yang dipandang sangat penting, baik untuk keperluan masa perang maupun dalam rangka upaya teraan pada masa damai.
Karena itu kesepuluh unsur itu dapat juga sebagai unsur-unsur geogrategi, yang meliputi: ukuran, bentuk, keterjangkauan, lokasi, perbatasan, hubungan dengan laut, topografi, mineral, iklim, penduduk.
2.    Kajian Regional Berdasar Tujuh Topik Kunci Menurut Wheeler Kostbade dan Thomas.
Wheleer, Kostbade dan Thotnan memandang bahwa karakteristik, keunikan atau corak individualitas kawasan yang menjadi sasaran kajian geografi regional merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang meliputi keadaan lingkungan alam, penduduk, budaya, dan sejarahnya. Untuk memahami karakteristik kawasan perlu dikaji secara rinci tujuh topik kunci yang meliputi: Lokasi, penduduk, status politik atau sejarahnya, lingkungan alami, tipe ekonomi, potensi-potensi, permasalahan Utama.
D.  Pengertian dan Kedudukan Geografi Regional
1.    Teori dan Prosedur Dalam Mempelajari Region.
Region merupakan batasannya sendiri maupun berdasar sifat konsepsi intelektual, suatu satuan (entity) untuk pengarahan pemikiran, terwujud dengan menyeleksi ciri-ciri tertentu yang relevan terhadap suatu minat atau masalah kedaerahan, dan dengan mengensampingkan ciri-ciri yang tidak relevan. Tujuan pertama studi regional ialah untuk mendeskripsikan corak atau karakteristik daerah-daerah tertentu.
Pernyataaan umum mengenai ciri-ciri region tidak dikemukakan para geografiwan. Maka untuk mengatasi kekurangan mengenai hal yang demikian itu James dan Jones mencoba mengemukakan pertimbangan esensial mengenai ciri atau atribut regiaon, yang meliputi:
a.    Kriteria.
Merupakan syarat dasar untuk penentuan region.
b.    Kategori.
Menggambarkan golongan berdasar corak dasar mengingat sifat-sifat umum ataupun criteria yang dipakai.
c.    Karakteristik.
Karakteristik berlaku baik bagi uniform region maupun nodal region.
Untuk uniform region perlu diperhatikan dua sifat karakteristiknya, seperti di bawah ini:
1)    Uniform region adalah homogeny, karena setiap bagian daerahnya mengandung sifat (sifat-sifat) yang dipakai sebagai dasar pembatasannya.
2)    Uniform region  mengandung variasi tertentu dalam hal intensitas atau sifat yang dibolehkan menurut kriteria.
Bagi ‘nodal region’ perlu diperhatikan empat hal, di samping karakteristik yang berlaku bagi region pada umumnya, yaitu meliputi sebagai berikut:
1)    Nodal region adalah homogeny karena seluruh daerahnya bersesuaian dengan suatu desain integral dalam hal sirkulasi internal.
2)    Nodal region mengandung satu pusat (fokus) ada kalanya beberapa buah yang bertugas sebagai titik pusat organisasi.
3)    Nodal region menyangkut suatu pola sirkulasi.
4)    Fokus ‘nodal region’ dihubungkan dengan bagian-bagian daerahnya oleh ikatan-ikatan dengn intensitas dan sifat yang berbeda.        
d.    Inti dan perbatasan.
Pengertian region sendiri menurut Komisi di Amerika yang dipimpin Derwent Whittlesay mengandung pengertian:

1)    Suatu daerah dengan ukuran tertentu (bias besar bias kecil).
2)    Daerah bersifat homogeny berdasar criteria tertentu.
3)    Dapat dibedakan dari daearh sekitarnya oleh adanya suatu jenis ikatan khusus secara kedaerahan (ada internal cohesion).
Peta sangat esensial bagi studi geografi, karena:
1)    Memungkinkan penggambaran secara ringkas tantang region.
2)    Di lapangan peta membantu memungkinkan cara yang tepat dalam melakukan pengamatan.
3)    Peta untuk memudahkan analisis dan pembandingan.
Jika daerah-daerah digambarkan pada peta untuk dianalisis geografi mungkin perlu di bedakan 3 macam perbedaan (diferensiasi), yaitu:
1)    Perbedaan menurut derajat.
Perbedaan menurut derajat muncul kalau suatu fenomena meluas terus-menerus (kontinu) tanpa putus, dan hanya bervariasi dalam hal kapasitasnya
2)    Perbedaan menurut pencacahan.
Perbedaan cacah timbul kalau menyangkut pola titik-titik yang penggambarannya pada peta dengan skala  diperkecil tak dapat menunjukkan tiap individu dengan simbolnya masing-masing.
3)    Perbedaan menurut jenis.
Perbedaan dalam hal jenis timbul kalau suatu fenomena terdapat secara berbeda pada daerah yang berlainan yang masing-masing ditandai dengan perbedaan kualitas atau coraknya.
e.    Compage. 
Merupakan istilah lama (abad 16-17) yang sekarang jarang dipakai , dan berasal dari kata com (= bersama)  dan pag atau pangere (= mengikat). Jadi, berarti struktur atau pun susunan yang kompleks dan kuat. Compage juga ditandai dengan lokasi yang unik, meliputi suatu gabungan unsur-unsur, secara terbatas tak mempunyai daerah bandingan.
Ada empat tingkatan hierarki ‘compage’ yang masing-masing perlu memenuhi syarat-syarat:
1)    Perlu menggambarkan secara jelas perbedaan tingkatan yang lain.
2)    Ada penamaan atau sebutan  (istilahnya) sendiri, tidak semua dengan sebutan nama yaitu region.
3)    Hendaknya masing-masing dapat dipetakan dengan skala yang berbeda.
Penggolongan ‘compage’ atas empat tingkatan hierarki dengan sebutan berbeda meliputi:
1)    Locality.
Merupakan tingkatan paling rendah dan meliputi lingkungan sehari-hari dengan suatu realitas dan arti maksimum bagi penduduknya. Skala peta untuk studi ‘locality’ dapat berkisar antara 1:10.000 hingga 1:50.000.
2)    District.
Beberapa ‘localities’ dapat digabungkan hingga menjadi suatu wilayah lebih besar yang dapat dengan medah dibedakan dari yang lain dan merupakan satuan yang disebut ‘district’. Skala peta yang dipakai untuk pembahasan ‘district’ dapat berkisar dari 1:50.000 sampai 1:250.000.
3)    Province.
Province seringkali bertepatan dengan ‘geomorphic regions’, seperti misalnya: Daerah Pegunungan Kapur Selatan, daerah Pantai Utara Jawa. Skala dari 1:100.000 hingga 1:5.000.000.
4)    Realm.
 Realm’ dapat didasarkan atas pola kegiatan manusia dengan drajat generalisasi yang cukup besar dan penelaahan yang mendetil sering perlu ditiadakan. ‘Realm’ dapat merupakan suatu bagian benua, anak benua, atau sekumpulan kawasan kepulauan dan Semenanjung seperti: Asia Tenggara, India Pakistan-Bangladesh, Eropa Barat Laut, dan sebagainya. Skala yang dipakai melebihi 1:5.000.000.

f.     Kesadaran regional.
Regionalisme merupakan sesuatu yang menggambarkan tidak saja suatu suasana perasaan, pandangan atau pikiran dan menunjukkan atau menyangkut:
1)    Kerangka bagi keperluan pengumpulan informasi tentang wilayah.
2)    Suatu hipotesis untuk mempelajari inteirelasi antarwilayah.
3)    Suatu alat atau sarana untuk keperluan administrasi perencanaan.
2.    Kedudukan Geografi Regional Dalam Ilmu dan Pengajaran Sekolah.
a.    Kedudukan Geografi Regional Sebagai Ilmu.
Hattner (di Jerman), Vidal (di Prancis), dan Hartshorne (di Amerika) merupakan tokoh-tokoh geografi yang telah menempatkan geografi regional sebagai ilmu yang mempelajari keanekaragaman yang unik daerah-daerah di muka bumi.
Geografi sebagai ilmu menurut Hartshorne, perlu menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1)    Dasar pengamatan empiric yang sebebas (seobjektif) mungkin, melukiskan fenomena dengan derajat kesaksamaan dan kemantapan yang maksimum.
2)    Atas dasar hal yang demikian, fenomena diklasifikasikan dalam artian konsep-konsep yang umum (universal), sejauh realita mungkin.
3)    Melalui pertimbangan rasional tentang fakta-fakta yang dicapai melalui analisis dan sintesis logik, termasuk juga penggunaaan dan penyuluhan (sejauh mungkin) prinsip-prinsip umum atau hukum tentang interrelasi, mencapai pemahaman ilmiah maksimum tentang interrrelasi fenomena.
4)    Menyajikan hasil penemuan dalam susunan atau system yang beraturan sehingga apa yang diketahui membawa orang sampai pada batas ketidaktahuan.
b.    Geografi Regional Dalam Pengajaran sekolah.
Sejak tahun 1972 para geografiwan dan ahli pendidikan geografi sepakat agar geografi yang diajarkan disekolah bukan geografi yang terkotak dalam geografi fisis dan geografi manusia, melainkan geografi terpaduyang membahas Hubungan kehidupan dengan lingkungan alamnya.
Seminar pengajaran geografi 1972 sepakat menyatakan bahwa un tuk keperluan pengajaran sekolah, objek studi geografi ialah permukaan bumi sebagai suatu kebulatan. Hakikat sasaran geografi meliputi:
1)    Kebulatan Hubungan manusia dan lingkungan.
2)    Wilayah (region) sebagai hasil interaksi, asosiasi, integrasi dan diferensiasi unsure-unsur alamiah dan manusiawi dalam ruang tertentu di permukaan bumi.
Dalam kenyataan kurikulum yang berlaku, sejak 1975 materi pengajaran geografi justru terpecah (terpisah), sebagian diajarkan dalam bidang studi ilmu pengetahuan sosial (IPS) dan sebagian lagi dalam bidang studi ilmu pengetahuan alam.
Hal ini tercermin dari adanya kenyataan-kenyataan sebagai berikit:
1)    Para siswa berpikir dalam arti kawasan Negara atau ‘political regions’.
2)    Kesadaran siswa akan pengertian region menurut geografiwan.
3)    Para siswa acuh tak acuk mengenai kenampakan-kenampakan nyata tempat-tempat yang telah menjadi objek studinya.